Beda Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah


Beda Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah

Abul ‘Abbas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –
rahimahullah- berkata, “Setiap bid’ah bukan wajib dan bukan sunnah, maka ia
termasuk bid’ah sayyi’ah. Bid’ah termasuk bid’ah dholalah
(yang menyesatkan) menurut sepakat para ulama. Siapa
yang menyatakan bahwa sebagian bid’ah dengan bid’ah
hasanah, maka itu jika telah ada dalil syar’i yang
mendukungnya yang menyatakan bahwa amalan tersebut sunnah (dianjurkan). Jika bukan wajib dan bukan pula
sunnah (anjuran), maka tidak ada seorang ulama pun
mengatakan amalan tersebut sebagai hasanah (kebaikan)
yang mendekatkan diri kepada Allah. Barangsiapa mendekatkan diri pada Allah dengan sesuatu
yang bukan kebaikan yang diperintahkan wajib atau
sunnah, maka ia sesat, menjadi pengikut setan dan
mengikuti jalannya.

‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu
‘anhu- berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan
pada kami jalan yang lurus, lalu di samping kanan
kirinya terdapat jalan. Lalu beliau mengatakan mengenai
jalan yang lurus adalah jalan Allah dan cabang-cabangny
a terdapat setan yang menyeru kepadanya. Lalu beliau
membaca firman Allah Ta’ala,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu
yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu
mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai beraikan kamu dari jalanNya” (QS. Al An’am:
153) (Majmu’ Al Fatawa, 1: 162).

Nyatanya Kurang Tepat

Yang jelas pembagian bid’ah menjadi hasanah dan sayyi’ah
kurang tepat karena akan menimbulkan kerancuan. Kok
bisa ada bid’ah yang baik, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam sendiri mengatakan,

“Setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867). Hadits
semisal ini dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh
umum, artinya mencakup semua bid’ah, yaitu amalan
yang tanpa tuntunan atau tanpa dasar.

Imam Asy Syatibhi Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,
“Para ulama memaknai hadits di atas sesuai dengan
keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama
sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadits tersebut
yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari
Ilmu Ushul Bida’, hal. 91, Darul Ar Royah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi
terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah
itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik.
Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia
menganggapnya baik.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin
Nashr dalam kitab As Sunnah dengan sanad shahih dari
Ibnu ‘Umar. Lihat Ahkamul Janaiz, Syaikh Al Albani,
hal. 258, beliau mengatakan hadits ini mauquf, shahih)

Untuk Memahami Manakah Bid’ah

Untuk memahami bagaimana pengertian yang tepat
mengenai bid’ah (sayyi’ah), maka berikut adalah
kriterianya. Jika memenuhi tiga kriteria ini, maka suatu
amalan dapat digolongkan sebagai bid’ah:

1. Amalan tersebut baru, diada-adakan atau dibuat-buat.
2. Amalan tersebut disandarkan sebagai bagian dari
ajaran agama.
3. Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari
dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id
Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)

Dari kriteria pertama di atas, maka amalan yang ada
tuntunan dan memiliki dasar dalam Islam tidak disebut
bid’ah semisal shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
Dilihat dari kriteria kedua, maka tidak termasuk di
dalamnya hal baru atau dibuat-buat berkaitan dengan
urusan dunia, semisal perkembangan atau inovasi pada smartphone dan laptop, ini bukanlah bid’ah yang dicela.
Dan jika menilik kriteria ketiga, maka amalan yang ada
landasan dalil khusus seperti shalat tarawih yang
dilakukan secara berjama’ah di masa ‘Umar hingga saat
ini, tidaklah disebut bid’ah (Lihat Qowa’id Ma’rifatil
Bida’, hal. 18-21).

Semakin menguatkan penjelasan di atas yaitu definisi
Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i rahimahullah berikut
ini. Beliau berkata,

“Yang dimaksud setiap bid’ah adalah sesat yaitu setiap
amalan yang dibuat-buat dan tidak ada dalil pendukung
baik dalil khusus atau umum” (Fathul Bari, 13: 254). Juga
ada perkataan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah,

“Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama
dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk
kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu
termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan
yang lahir dan batin” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 128).
Ringkasnya yang dimaksud bid’ah adalah setiap yang dibuat-buat dalam masalah agama tanpa ada dalil.

Silakan Datangkan Dalil!

Jadi silakan timbang-timbang jika menilai bid’ah hasanah dengan pernyataan di atas. Apakah perayaan Maulid
Nabi itu hasanah? Apakah berdo’a dengan menganggap
afdhol jika di sisi kubur para wali itu bid’ah hasanah?
Begitu pula yasinan dan selamatan kematian (pada hari
ke-3, 7, 40, 100, sampai dengan 1000 hari) benarkah bid’ah
hasanah? Silakan buktikan dengan dalil!

“Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah
orang yang benar” (QS. Al Baqarah: 111).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s