TERLAMBAT UNTUK JADI TANAH


TERLAMBAT UNTUK JADI TANAH

إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا ﴿٤٠

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir, musyrik) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. (Q.S.78:40)

Setelah melihat neraka yang akan dimasukinya, terlontarlah kata kata dari pribadi musyrik, kafir “sebaiknya dahulu aku jadi tanah “. Sungguh suatu lontaran kata kata cerdas, tapi merupakan kata kata penyesalan yang teramat berat, yang menandakan jadi manusia itu ternyata tidak enak dan tidak mudah. Kenapa tidak enak dan tidak mudah?, ini terkait dengan amanah dari Allah swt yang telah disanggupi manusia untuk dijalankan, tapi pada kenyataannya tak sanggup dijalankan oleh kebanyakan manusia , maka menyesalah mereka jadi manusia.

{إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَ الْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ ، إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً} 72

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)

Manusia di tawarkan amanah Allah sesuai apa yang dimaui Allah, Allah sudah tau bahwa amanah itu berat bagi manusia, bukan tidak mampu dijalankan, tapi berat untuk dijalankan.

DiberikanNya manusia bekal, panca indra berupa penglihatan, pendengaran, perasaan, pemikiran (akal) ( 4 P), Allah berikan pula potensi ghadab (nafsu amarah) dan syahwat, dengan bekal pada manusia tsb, Allah menawarkan amanahNya menurut apa maunya Allah dan ternyata manusia menyanggupi menerima amanah yang berat itu.

Padahal konsekwensi logis dari ketidak mampuan menjalankan amanah Allah, adalah sesalan sebagaimana yang di ucapkan orang kafir, musyrik tsb, “lebih baik jadi tanah” dari pada jadi manusia yang telah menyanggupi menerima amanah tapi tak sanggup di jalankan. Gunung, tanah, hewan, tanaman tidak ada sangsi bagi mereka karena dari awal telah menolak tawaran amanah Allah.

Bahwa menerima amanah Allah mengandung resiko baik atau buruk, berhasil di jalankan amanah Allah manusia tsb mendapat surga, gagal atau tak menghiraukan amanah dari Allah mendapat konsekwensi logis azab neraka. Dengan demikian setelah penerimaan amanah tsb dari Allah swt kepada manusia, kehidupan manusia seharusnya tidak bisa lagi nyantai, harus berfokus menjalankan amanah Allah swt sampai kematian mendatangi mereka. Ini sungguh beban yang berat thd siapa saja yang dikatakan manusia lantaran ada sangsi yang maha berat di balik penawaran amanah tsb oleh Allah azza wajalla.

Karena itu Allah swt sampai menyatakan manusia itu zalim (unproportional), lebay dan jahil, bodoh (foolish), mau memegang amanah, padahal amanah dari Allah adalah mewujudkan keinginan Allah dimuka bumiNya, yang menjadikan semua manusia dan alam semesta tunduk pada kehendakNya.

Tapi apa yang diperbuat manusia malah menyalahi amanah dari Allah, lantaran mereka tak mampu mengendalikan potensi yang diberikan Allah berupa pemikiran (akal), perasaan, penglihatan, pendengaran ghadap dan syahwat mereka. Seharusnya petunjuk Allah (Qur’an) sebagai bekal aman untuk menjalankan amanah Allah ditempatkan diatas 4P (pemikiran, perasaan, penglihatan, pendengaran) mereka, kita lihat UUD’45 NKRI, yang meninggikan UU nya diatas Qur’an dan utusanNya, yang berarti menempatkan akal diatas petunjuk Allah.

Begitu juga ghadap dan syahwat mereka tak bisa mereka kendalikan sehingga dengan ghadapnya mereka berkata, kami siap mati (kafir) untuk harga mati NKRI. Begitulah fakta manusia menempatkan Qur’an, dibawah akalnya, dibawah perasaannya, dibawah hawa nafsunya, dibawah ghadap dan syahwatnya, maka brantakkanlah manusia dalam komitmennya menjalankan Amanah Allah swt yang telah disanggupinya sejak awal kehidupan manusia.

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ ﴿٦٧

“67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanahNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Q.S.5:67)

Wahai manusia, komitmenlah sebagaimana Rasulullah memenuhi janji awal kehidupan manusia yang siap menerima amanah Allah. Kita sama sebagai manusia, tak bisa mundur lagi untuk menjadi tanah. Sudah kadung basah jadi manusia. Kita sudah menyanggupi menjalankan amanah Allah, kesanggupan kita menjalankan amanah Allah telah tertuang dalam Al Qur’an, maka jalankanlah.

Maka jangan lagi kita berlaku zalim (zholuuman) dan berlaku bodoh (jahuulan) sebagaimana mereka orang musyrik, kafir, munafik yang malah mencari cari amanah yang justru bukan pula datang dari Allah, sehingga amanah ilegal yang mereka jalankan justru akan membuat alam semesta yang dikendalikan Allah murka kehidupan didunia semrawut dan bumi tak mau menampakkan keberkahannya.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّى وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦٢

“62. “Aku sampaikan kepadamu amanah-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”.”(Q.S.7:62)

فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقَدْ أَبْلَغْتُكُم مَّآ أُرْسِلْتُ بِهِۦٓ إِلَيْكُمْ ۚ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّى قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُۥ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ رَبِّى عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَفِيظٌ ﴿٥٧

“57. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanah) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Q.S.11:57).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s