PERANG BADAR , 313 Muslim Vs 1.000 Kuffar


badAR

>>> nabi berkata; “…Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian,”
>>> sahabat Nabi menjawab: “… SAYA/KAMI TIDAK AKAN BERKATA SEPERTI BANI ISRAIL kepada Nabi Musa, PERGI BERSAMA TUHANMU dan perangilah SEDANG KAMI AKAN DUDUK MELIHATNYA,”

Nabi Muhammad mendengar berita bahwa kafilah besar melewati rule dekat kota Madinah dibawah komando kepemimpinan Abu Sufyan. Nabi Muhammad berusaha menghadangnya namunsempat Abu Sufyan mencium jejak itu dan akhirnya mengubah rute perjalanan dengan mengirimseorang utusan ke Mekah agar menambah jumlah personal. Pasukan tempur dengan seribu tentara dan tujuh ratus unta serta pasukan kuda dipersiapkan atas saran Abu Jahl, suatu pertunjukan kekuatan raksasa yang hendak menggempur kota Madinah. Setelah menerima mata-mata tentang kafilah serta perubahan rule perjalanan dan pasukan militer Abu Jahl, Nabi Muhammad membuat pe-ngumuman minta saran sahabafiya. Abu Bakr berdiri secara terhormat sikap terhormat yangkemudian diikuti oleh Umar. Kemudian al-Miqdad bin ‘Amr berkata, “Wahai Nabi Allah, pergilah kemana Allah memberitahukan anda dan kita akan bersamamu. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata seperti bani Israil kepada Nabi Musa, pergi bersama tuhanmu dan perangilah sedang kami akan duduk melihatnya,”

Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika sekiranya engkau hendak membawa saya pada suatu tempat bernama Bark al-Ghimad saya akan berperang sampai mati bersamamu melawan mereka sehingga engkau dapat menguasainya.” Kata-katanya terdengar oleh Nabi Muhammad dan ia berterima kasih dan berdoa kepadanya.Lalu ia mengatakan, “Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian,” yang dimaksud adalah kaum Ansar. Ada dua alasan di belakang ini: (a). Mereka sebagai anggota masyarakat mayoritas; dan (b).Ketika kaum Ansar memberi janji setia di ‘Aqaba, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berhakmendapat keselamatan sehingga ia memasuki daerah mereka. Saat itu mereka berjanji akanmemberi proteksi sebagaimana mereka proteksi pada para keluarganya. Oleh karena itu, Nabimemberi perhatian jangan jangan mereka meliliatnya dengan sikap setengah hati terhadappenyerangan tentara Abu Jahl yang begitu kuat saat masih ada di luar perbatasan kota Madinah.Saat Nabi Muhammad mengutarakan kata-kata seperti itu, Sa’d bin Mu’adh berkata, “Demi Allah,mungkin yang dimaksud adalah kami?”. Nabi menjawab, “Tentu, tanpa diragukan lagi.” Kami percayapada engkau, kami teguh terhadap kebenaranmu, kami bersaksi bahwa apa yang engkau dakwahkanadalah benar dan kami telah memberi sumpah setia untuk mendengar dan menaatinya. Oleh karenaitu, pergilah ke tempat mana pun yang engkau kehendaki dan kami akan tetap bersamamu. DemiTuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menyeberangi lautan ini sekalipun,saya akan tetap mengarungi lautan dan tak akan ada seorang pun yang menunggu-nunggu dibelakang. Kita tidak gentar sedikit pun menghadang musuh-musuhmu di esok hari. Kita cukupberpengalaman dan terlatih dan dapat dipercaya dalam pertempuran. Barangkali akan lebih baik saat Allah mengizinkan kita membuat presentasi sesuatu yang akan membuat engkau senyum, maka ajaklah menerima rahmat Allah.

Nabi Muhammad, semakin yakin setelah diberi masukan oleh ucapan dari Sa’d dan kemudian siap menuju Badr dengan pasukan sebanyak 319 orang, dua ratuspasukan kuda dan tujuh puluh pasukan unta. Di sanalah mereka menghadang kekuatan tentaraQuraish: seribu orang (enam ratus memakai baju tempur anti peluru, seratus pasukan kuda danratusan pasukan unta.
Pada hari terakhir karunia Allah tampak terang pada pihak tentara Muslim,dimana musuh-musuh kafir menderita kekalahan telak dan negara Islam mulai mencapai tingkatkedewasaan menjadi kekuatan yang terkenal di Semenanjung Arab

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu
bahwa NabiShallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang yang menyertai beliau pada waktu perang BADAR: “Pulanglah, aku tidak akan pernah meminta bantuan orang musyrik.” Riwayat Muslim.

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhubahwa mereka (kaum muslimin) beradu satu lawan satu pada waktu perang BADAR . Riwayat Abu Dawud dalam hadits panjang

…….. ref-<<<<
orang kafir Quraisy ketika mendengar kabar bahwa kafilah dagang Abu Sufyan meminta bantuan, dengan sekonyong-konyong mereka menyiapkan kekuatan mereka sebanyak 1000 personil, 600 baju besi, 100 kuda, dan 700 onta serta dengan persenjataan lengkap. Berangkat dengan penuh kesombongan dan pamer kekuatan di bawah pimpinan Abu Jahal.

<<< Allah Berkehendak Lain >>>

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para shahabat keluar dari Madinah dengan harapan dapat menghadang kafilah dagang Abu Sufyan. Merampas harta mereka sebagai ganti rugi terhadap harta yang ditinggalkan kaum muhajirin di Makah. Meskipun demikian, mereka merasa cemas bisa jadi yang mereka temui justru pasukan perang. Oleh karena itu, persenjataan yang dibawa para shahabat tidaklah selengkap persenjataan ketika perang. Namun, Allah berkehendak lain. Allah mentakdirkan agar pasukan tauhid yang kecil ini bertemu dengan pasukan kesyirikan. Allah hendak menunjukkan kehebatan agamanya, merendahkan kesyirikan.

Allah gambarkan kisah mereka dalam firmanNya:
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjata-lah yang untukmu (kamu hadapi, pent. Yaitu kafilah dagang), dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (Qs. Al Anfal: 7)

Demikianlah gambaran orang shaleh. Harapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat tidak terwujud. Mereka menginginkan harta kafilah dagang, tetapi yang mereka dapatkan justru pasukan siap perang. Kenyataan ini memberikan pelajaran penting dalam masalah aqidah bahwa tidak semua yang dikehendaki orang shaleh selalu dikabulkan oleh Allah. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu mengendalikan keinginan Allah. Sehebat apapun keshalehan seseorang, setinggi apapun tingkat kiyai seseorang sama sekali tidak mampu mengubah apa yang Allah kehendaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s