PERANG BANI QURAIZHAH


Pertempuran sengit antara kaum muslimin melawan koalisi pasukan kafir Quraisy telah selesai, yang pada akhirnya kemenangan berada di tangan umat Islam. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi Rasulullah dan para sahabatnya belum selesai sampai di sini.
Tatkala Perang Ahzab terjadi, komunitas Yahudi Bani Quraizhah, yang seharusnya membela dan mempertahankan kota Madinah dari serangan pasukan Ahzab (koalisi kafir) bersama-sama kaum Muslim, malah berbalik membantu musuh.
Allah berkehendak lain, pasukan Ahzab yang telah mengepung kota Madinah pada akhirnya tercerai-berai disapu hujan dan angin dingin. Persekutuan mereka berantakan akibat rumor yang secara sengaja ditiupkan oleh Nu‘aim bin Mas‘ud (yang baru masuk Islam waktu itu). Pasukan koalisi kembali ke negeri mereka masing-masing, tinggal Yahudi Bani Quraizhah yang berharap-harap cemas atas nasibnya, karena mereka tinggal tidak jauh dari Madinah. Persekongkolan mereka dalam bentuk pelanggaran perjanjian dengan Rasulullah telah terbongkar. Mereka telah mencampakkan Watsîqah (Piagam) Madinah, yang mengharuskan mereka untuk tidak bersekutu dan membantu musuh dari kaum Muslim.
Rasulullah dan kaum Muslim kembali ke Madinah, lalu meletakkan persenjataan mereka. Akan tetapi, pada waktu zuhur, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah menyuruhmu berangkat menuju Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka.”
Maka, Rasulullah memerintahkan seorang mu’adzin agar berseru kepada orang-orang, “Siapa yang tunduk dan patuh, maka janganlah sekali-kali mendirikan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.”
Beliau pergi di tengah prosesi Muhajirin dan Anshar, hingga tiba di salah satu pangkalan air milik Bani Quraizhah, yang disebut Bi’r Anna. Orang-orang Muslim melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah Secara berkelompok-berkelompok mereka berangkat menuju Bani Quraizhah.
Saat tiba waktu shalat ashar, sebagian dari mereka berkata, “Kami tidak mendirikan shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraizhah, seperti yang diperintahkan kepada kami.” Hingga ada sebagian mereka yang shalat ashar ketika sudah masuk waktu isya’. Sebagian yang lain sudah mendirikan shalat ashar di tengah perjalanan ketika waktu ashar telah tiba. Mereka memahami perintah Rasulullah adalah sebagai anjuran untuk mempercepat perjalanan. Akan tetapi keduanya ini tidak menjadi permasalahan.
Pasukan yang baru kembali dari medan Perang Khandaq segera berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Rasulullah melakukan pengepungan terhadap Bani Quraizhah selama 25 malam hingga mereka menderita. Allah memasukkan ketakutan ke dalam hati mereka.
Tatkala Bani Quraizhah yakin bahwa Rasulullah tidak akan meninggalkan pengepungannya sampai mengalahkan mereka, maka Ka‘ab bin Asad berkata kepada kaumnya, “Hai orang-orang Yahudi, kalian telah merasakan penderitaan sebagaimana yang kalian alami. Oleh karena itu, aku mengajukan tiga buah penawaran kepada kalian. Silakan kalian ambil pilihan tersebut sebagaimana yang diinginkan.”
Mereka menjawab, “Apa gerangan tiga buah penawaran tersebut?”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Ketiga tawaran itu adalah, kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, sungguh sudah amat jelas di hadapan kalian bahwa dia itu adalah Rasul, dan kalian mendapati namanya tertulis di dalam kitab kalian. Dengan begitu, kalian akan memperoleh keamanan atas darah, kekayaan, anak-anak dan wanita-wanita kalian.”
Mereka menukas, “Kita tidak akan meninggalkan kitab Taurat selama-lamanya dan tidak akan menggantinya dengan kitab yang lain.”
Ka‘ab bin Asad berkata lagi, “Apabila kalian menolak tawaran pertama, mari kita bunuh anak-anak dan wanita-wanita kita, kemudian kaum laki-laki kita keluar menghadapi Muhammad dan para sahabatnya dengan membawa persenjataan lengkap tanpa meninggalkan beban berat (yakni anak-anak dan kaum wanita) di rumah hingga Allah menyelesaikan perkara kita dengan mereka. Jika kita terbunuh, kita terbunuh tanpa meninggalkan keturunan di rumah yang kita khawatirkan keselamatannya. Jika kita meraih kemenangan, aku bersumpah bahwa kita akan memperoleh wanita dan anak-anak lagi.”
Mereka bertanya, “Apa memang kita harus membunuh anak-anak dan kaum wanita yang mestinya kita kasihani? Apa artinya kehidupan yang nikmat tanpa kehadiran mereka?”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Apabila kalian tidak mau juga menerima tawaran yang kedua, malam ini adalah malam Sabtu, mudah-mudahan Muhammad dan para sahabatnya memberikan keamanan kepada kita. Lalu turunlah kalian dari benteng-benteng, semoga kita memperoleh kesempatan atas lengahnya Muhammad dan para sahabatnya, kemudian kita serang mereka secara tiba-tiba.”
Mereka berkata, “Kalau begitu, kita merusak (kesucian) hari Sabtu dan mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, kecuali orang yang telah engkau ketahui, kemudian ia tertimpa musibah yang engkau ketahui, yaitu kebinasaan.”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Sungguh, tidak ada seorang pun dari kalian yang bersungguh-sungguh di dalam satu malam pun sejak ia dilahirkan ibunya.”
Negosiasi antara Bani Quraizhah dan Rasulullah berlangsung singkat. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan (nasib) Yahudi Bani Quraizhah kepada Sa‘ad bin Mu‘adz. Saat itu kondisi Sa‘ad bin Mu‘adz terluka parah akibat terkena panah pada Perang Khandaq.
Kaum Muslim pergi menuju Sa‘ad bin Mu‘adz dan berkata, “Wahai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah telah mengangkatmu untuk memutuskan perkara-perkara yang menyangkut keluargamu.”
Sa‘ad berkata, “Terhadap persoalan tersebut kalian harus konsisten dengan janji Allah, bahwa hukum terhadap mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku putuskan.”
Mereka menjawab, “Ya.”
Sa‘ad bin Mu‘adz berkata lagi, “Kalian juga harus konsisten terhadap orang yang ada di sini.”
Ia berkata sambil menunjuk ke tempat Rasulullah Hal ini merupakan bentuk penghormatannya kepada beliau. Rasulullah menjawab, “Ya.”
Sa‘ad berkata, “Mengenai Bani Quraizhah, aku memutuskan bahwa kaum lelaki mereka harus dibunuh, harta kekayaan mereka dibagi-bagi, anak-anak dan kaum wanitanya menjadi tawanan (sabiy).”
Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sungguh, engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh lapis langit.”
Setelah itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah diperintahkan untuk keluar dari bentengnya. Kemudian Rasulullah menahan mereka di Madinah, di rumah putri al-Harits, salah seorang wanita dari Bani an-Najjar. Rasulullah pergi ke pasar Madinah, kemudian menggali parit di sana. Beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah untuk dibawa ke parit tersebut kelompok demi kelompok, termasuk Ka‘ab bin Asad tokoh Bani Quraidhah, bersama-sama dengan 600 atau 700 orang Bani Quraizhah. Ada yang mengatakan jumlah mereka 800, bahkan 900 orang. Mereka seluruhnya dipenggal dan dikuburkan di dalam parit itu
Pertempuran sengit antara kaum muslimin melawan koalisi pasukan kafir Quraisy telah selesai, yang pada akhirnya kemenangan berada di tangan umat Islam. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi Rasulullah dan para sahabatnya belum selesai sampai di sini.
Tatkala Perang Ahzab terjadi, komunitas Yahudi Bani Quraizhah, yang seharusnya membela dan mempertahankan kota Madinah dari serangan pasukan Ahzab (koalisi kafir) bersama-sama kaum Muslim, malah berbalik membantu musuh.
Allah berkehendak lain, pasukan Ahzab yang telah mengepung kota Madinah pada akhirnya tercerai-berai disapu hujan dan angin dingin. Persekutuan mereka berantakan akibat rumor yang secara sengaja ditiupkan oleh Nu‘aim bin Mas‘ud (yang baru masuk Islam waktu itu). Pasukan koalisi kembali ke negeri mereka masing-masing, tinggal Yahudi Bani Quraizhah yang berharap-harap cemas atas nasibnya, karena mereka tinggal tidak jauh dari Madinah. Persekongkolan mereka dalam bentuk pelanggaran perjanjian dengan Rasulullah telah terbongkar. Mereka telah mencampakkan Watsîqah (Piagam) Madinah, yang mengharuskan mereka untuk tidak bersekutu dan membantu musuh dari kaum Muslim.
Rasulullah dan kaum Muslim kembali ke Madinah, lalu meletakkan persenjataan mereka. Akan tetapi, pada waktu zuhur, Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah menyuruhmu berangkat menuju Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka.”
Maka, Rasulullah memerintahkan seorang mu’adzin agar berseru kepada orang-orang, “Siapa yang tunduk dan patuh, maka janganlah sekali-kali mendirikan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.”
Beliau pergi di tengah prosesi Muhajirin dan Anshar, hingga tiba di salah satu pangkalan air milik Bani Quraizhah, yang disebut Bi’r Anna. Orang-orang Muslim melaksanakan apa yang diperintahkan Rasulullah Secara berkelompok-berkelompok mereka berangkat menuju Bani Quraizhah.
Saat tiba waktu shalat ashar, sebagian dari mereka berkata, “Kami tidak mendirikan shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraizhah, seperti yang diperintahkan kepada kami.” Hingga ada sebagian mereka yang shalat ashar ketika sudah masuk waktu isya’. Sebagian yang lain sudah mendirikan shalat ashar di tengah perjalanan ketika waktu ashar telah tiba. Mereka memahami perintah Rasulullah adalah sebagai anjuran untuk mempercepat perjalanan. Akan tetapi keduanya ini tidak menjadi permasalahan.
Pasukan yang baru kembali dari medan Perang Khandaq segera berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Rasulullah melakukan pengepungan terhadap Bani Quraizhah selama 25 malam hingga mereka menderita. Allah memasukkan ketakutan ke dalam hati mereka.
Tatkala Bani Quraizhah yakin bahwa Rasulullah tidak akan meninggalkan pengepungannya sampai mengalahkan mereka, maka Ka‘ab bin Asad berkata kepada kaumnya, “Hai orang-orang Yahudi, kalian telah merasakan penderitaan sebagaimana yang kalian alami. Oleh karena itu, aku mengajukan tiga buah penawaran kepada kalian. Silakan kalian ambil pilihan tersebut sebagaimana yang diinginkan.”
Mereka menjawab, “Apa gerangan tiga buah penawaran tersebut?”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Ketiga tawaran itu adalah, kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, sungguh sudah amat jelas di hadapan kalian bahwa dia itu adalah Rasul, dan kalian mendapati namanya tertulis di dalam kitab kalian. Dengan begitu, kalian akan memperoleh keamanan atas darah, kekayaan, anak-anak dan wanita-wanita kalian.”
Mereka menukas, “Kita tidak akan meninggalkan kitab Taurat selama-lamanya dan tidak akan menggantinya dengan kitab yang lain.”
Ka‘ab bin Asad berkata lagi, “Apabila kalian menolak tawaran pertama, mari kita bunuh anak-anak dan wanita-wanita kita, kemudian kaum laki-laki kita keluar menghadapi Muhammad dan para sahabatnya dengan membawa persenjataan lengkap tanpa meninggalkan beban berat (yakni anak-anak dan kaum wanita) di rumah hingga Allah menyelesaikan perkara kita dengan mereka. Jika kita terbunuh, kita terbunuh tanpa meninggalkan keturunan di rumah yang kita khawatirkan keselamatannya. Jika kita meraih kemenangan, aku bersumpah bahwa kita akan memperoleh wanita dan anak-anak lagi.”
Mereka bertanya, “Apa memang kita harus membunuh anak-anak dan kaum wanita yang mestinya kita kasihani? Apa artinya kehidupan yang nikmat tanpa kehadiran mereka?”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Apabila kalian tidak mau juga menerima tawaran yang kedua, malam ini adalah malam Sabtu, mudah-mudahan Muhammad dan para sahabatnya memberikan keamanan kepada kita. Lalu turunlah kalian dari benteng-benteng, semoga kita memperoleh kesempatan atas lengahnya Muhammad dan para sahabatnya, kemudian kita serang mereka secara tiba-tiba.”
Mereka berkata, “Kalau begitu, kita merusak (kesucian) hari Sabtu dan mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, kecuali orang yang telah engkau ketahui, kemudian ia tertimpa musibah yang engkau ketahui, yaitu kebinasaan.”
Ka‘ab bin Asad berkata, “Sungguh, tidak ada seorang pun dari kalian yang bersungguh-sungguh di dalam satu malam pun sejak ia dilahirkan ibunya.”
Negosiasi antara Bani Quraizhah dan Rasulullah berlangsung singkat. Kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyerahkan urusan (nasib) Yahudi Bani Quraizhah kepada Sa‘ad bin Mu‘adz. Saat itu kondisi Sa‘ad bin Mu‘adz terluka parah akibat terkena panah pada Perang Khandaq.
Kaum Muslim pergi menuju Sa‘ad bin Mu‘adz dan berkata, “Wahai Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah telah mengangkatmu untuk memutuskan perkara-perkara yang menyangkut keluargamu.”
Sa‘ad berkata, “Terhadap persoalan tersebut kalian harus konsisten dengan janji Allah, bahwa hukum terhadap mereka adalah sesuai dengan hukum yang aku putuskan.”
Mereka menjawab, “Ya.”
Sa‘ad bin Mu‘adz berkata lagi, “Kalian juga harus konsisten terhadap orang yang ada di sini.”
Ia berkata sambil menunjuk ke tempat Rasulullah Hal ini merupakan bentuk penghormatannya kepada beliau. Rasulullah menjawab, “Ya.”
Sa‘ad berkata, “Mengenai Bani Quraizhah, aku memutuskan bahwa kaum lelaki mereka harus dibunuh, harta kekayaan mereka dibagi-bagi, anak-anak dan kaum wanitanya menjadi tawanan (sabiy).”
Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda (yang artinya), “Sungguh, engkau telah memutuskan perkara mereka dengan hukum Allah dari atas tujuh lapis langit.”
Setelah itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah diperintahkan untuk keluar dari bentengnya. Kemudian Rasulullah menahan mereka di Madinah, di rumah putri al-Harits, salah seorang wanita dari Bani an-Najjar. Rasulullah pergi ke pasar Madinah, kemudian menggali parit di sana. Beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah untuk dibawa ke parit tersebut kelompok demi kelompok, termasuk Ka‘ab bin Asad tokoh Bani Quraidhah, bersama-sama dengan 600 atau 700 orang Bani Quraizhah. Ada yang mengatakan jumlah mereka 800, bahkan 900 orang. Mereka seluruhnya dipenggal dan dikuburkan di dalam parit itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s