BERPEGANG TEGUHLAH PADA SUNNAH


11182233_904124676276475_1782369926627475901_n

Bismillah.
WASIAT NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM UNTUK BERPEGANG DENGAN SUNNAHNYA DAN SUNNAH KHULAFAUR RASYIDIN.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun (ia) seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagimu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan giggitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan”.
[HR Abu Dawud, no. 4.607; Tirmidzi, 2.676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah].

“Sesungguhnya Agama ini dibangun atas dasar ittiba’ (mengikuti) tuntunan Allah, bukan atas dasar rekaan manusia, karena pendapat yang berdasarkan akal umumnya tercela, ini karena kebanyakan perkara-perkara Agama tidak bisa ditunjukan oleh akal semata, lebih-lebih karena akal manusia itu berbeda-beda dalam kemampuannya (dalam menjangkau perkara-perkara Agama) dan dalam memahami, sekali pun terkadang memang pendapat akal itu diterima atau terpuji”
(I’lamul Muwaqqi’in 1/63)

“Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata; “Jangan-lah kalian duduk (bergaul) dengan ashhaabur ra’yi (orang-orang yang mengandalkan akal fikiran), karena sesungguhnya mereka adalah musuh As-Sunnah. Mereka itu tak mampu menghafal sunnah dan melupakan (dalam satu riwayat; menyepele-kan) hadits-hadits untuk difahami atau dimengerti, dan mereka-pun ketika ditanya tentang sesuatu yang mereka tidak tau (jawabannya), mereka malu untuk mengatakan; “Kami tidak tau”.
“Mereka-pun berfatwa dengan pendapat mereka sendiri, Mereka sesat dan menyesat-kan banyak orang. Mereka tersesat dari jalan yang lurus. Sesungguhnya Nabi kalian diwafat-kan oleh Allah setelah Dia mencukup-kan agama ini baginya dengan wahyu, sehingga akal tidak diperboleh-kan masuk ke dalamnya. Seandainya akal itu lebih utama dibanding As-Sunnah maka pastilah bagian bawah dari sepatu lebih pantas untuk dibasuh (ketika berwudhu) dibanding bagian atasnya, (karena bagian bawah lebih kotor” (Ibnu Abi Zamanin dalam Ushulus Sunnah 8, Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad 201, Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al-Faqih wal Mutafaqqih 276-480)

“Ibnu Baththah rahimahullah berkata; “Generasi pertama (dari umat ini) seluruhnya senantiasa berada diatas jalur yang satu, diatas kata hati yang satu dan madzab yang sama (satu). Al-Qur’an adalah pegangan mereka, dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalam Imam mereka. Mereka tidak mengguna-kan berbagai pendapat dan tidak pula bersandar kepada hawa nafsu. Hati mereka terjaga dalam lindungan Ilah Yang Menguasai dan dengan pertolongan-Nya jiwa mereka terhalang dari kecenderungan mengikuti hawa nafsu”
(Al-Ibanah/ Al-Qadr 1/237)

Apa Yang Diharamkan Oleh Nabi Shallallahu Alihi Wa Sallam Wajib Diterima, Sebagaimana Apa Yang Diharamkan Oleh Allah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Hampir ada seorang laki-laki yang bersandar di atas tempat tidurnya yang dihiasi, disampaikan kepadanya sebuah hadits dariku, lalu dia akan berkata: “Diantara kami dan kamu ada kitab Allah. Apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang halal, maka kita menghalalkannya. Dan apa yang kita dapati di dalamnya perkara yang haram, maka kita mengharamkannya!”
Ingatlah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti apa yang diharamkan oleh Allah”.
[HR Ibnu Majah, no. 12, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani].

Berpegang Dengan Al Kitab Dan As Sunnah Merupakan Jaminan Terhindar Dari Kesesatan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Aku telah tinggalkan untukmu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya. (Yaitu) Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”. [Hadits shahih lighairihi, HR Malik; Al Hakim; Al Baihaqi; Ibnu Nashr; Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali di dalam At Ta’zhim Wal Minnah Fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13].

Dari keterangan di atas, jelaslah kedudukan As Sunnah terhadap Al Qur’an. Pertama. Memiliki kedudukan yang sama sebagai sumber agama, karena As Sunnah dan Qur’an, keduanya merupakan wahyu. Kedua. Memiliki kedudukan yang sama sebagai hujjah (argumen) dan wajib untuk diikuti.

Kesimpulannya, Al Qur’an dan As Sunnah adalah dua yang saling menyatu, tidak berpisah. Dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Abdulah bin ad-Dailami berkata: “Sesungguhnya awal hilangnya agama adalah ditinggalkannya sunnah, Islam akan berkurang satu sunnah demi satu sunnah seperti putusnya tali satu kekuatan demi satu kekuatan”. (Lamu ad-Duuril Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur, hal. 21)

Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu : “Tidaklah datang kepada manusia suatu masa, melainkan mereka membuat satu kebid’ahan dan mematikan padanya satu sunnah, hingga hiduplah kebid’ahan-kebid’ahan dan matilah sunnah-sunnah”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Wadlah dalam Bida’ Wan Nahyu ‘anha, hal. 38-39).

Ibnu Mas’ud berkata; “Ikutilah sunnah dan janganlah mengada adakan sesuatu yang baru, karena sesungguhnya sunnah telah cukup bagi kalian. Dan pegang-lah oleh kalian (agama) orang-orang yang terdahulu (Salafus Shalih)” (I’lamul Muwaqqin 1/63)

Abdullah bin Umar berkata; “Setiap bid’ah itu sesat walau-pun orang-orang melihatnya baik” (HR. Ibnu Nashr 82, shahih)
==================================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s