SABAR DAN BERMUJAHADAH


10464180_1582717362003965_2490012598773360158_n

Sabar & Mujahadah

Ulama dari generasi Tabi’in, Hasan Basri Rah.A berkata bahwa :
“Tidak ada kemuliaan yang lebih besar yang Allah berikan kepada seseorang, melebihi sifat Sabar.”

Menurut Hujatul Islam, Imam Al Ghazali :
“Shabar adalah tetap tegaknya dorongan agama ketika berhadapan dengan dorongan nafsu.”
Jadi barangsiapa yang tetap tegak bertahan dalam mempertahankan agama atau perintah-perintah Allah sehingga dia bisa menundukkan hawa nafsunya secara terus menerus, maka orang tersebut termasuk orang yang sabar. Sahabat bertanya siapa itu orang sabar, lalu Nabi SAW menjawab mahfum :
“Orang yang tidak suka mengeluh dan mengadu kepada yang lain.”

Sabar itu ada 5 :
Asshobru fil ibadat : Sabar dalam beribadat
Asshobru indal mushibah : Sabar dari musibah
Asshobru anid Dunya : Sabar terhadap keduniaan dan tipu dayanya
Asshobru anil Maksiat : Sabar dari keinginan melakukan maksiat
Asshobru fil Jihad : Sabar dalam perjuangan

Untuk bisa meningkatkan derajat disisi Allah menjadi yang lebih tinggi lagi diperlukan ketahanan dan kesabaran. Ini karena tanda sayangnya Allah pada seorang hamba maka Allah akan datangkan banyak cobaan-cobaan kepadanya. Siapa yang Allah paling cintai dari hambanya ? yaitu Nabi Muhammad SAW. Siapa manusia yang paling banyak cobaan dan kesusahannya ? tidak ada satu mahlukpun yang cobaannya dan kesusahannya melebihi Nabi Muhammad SAW. Padahal Nabi SAW adalah orang yang paling Allah cintai, tetapi paling banyak susah dan paling banyak di uji oleh Allah. Ini karena derajat Nabi SAW ini naik disisi Allah asbab pengorbanannya dan ujiannya.

Maksud daripada ujian ini adalah bukannya untuk menyusahkan kita tetapi untuk menaikkan derajat kita. Sebagaimana dikantor kalau ingin menaikkan jabatan seseorang diberikan ujian tujuannya bukan untuk menyusahkan tetapi untuk menaikkan derajat atau pangkat dia. Diberikan ujian kepadanya, kalau dia lulus baru dinaikkan derajatnya atau statusnya. Jadi tujuan daripada ujian tersebut bukan maksudnya untuk menyusahkan. Begitu juga jika datang kepada kita kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan, maksud Allah bukan untuk menyusahkan kita tetapi Allah ingin mengangkat atau menaikkan derajat atau maqom kita. Kepada orang-orang yang menjalankan usaha agama ini akan datang berbagai macam ujian dan berbagai macam kesusahan kepada kita. Tetapi maksud utamanya adalah bukan untuk menyusahkan kita, melainkan untuk menaikkan derajat kita. Dengan kesusahan dan kesulitan, Allah inginkan kita menjadi orang yang sabar dan tahammul, bukan orang yang mudah putus asa.

Dengan kesulitan dan kesusahan, seseorang dapat menjadi manusia yang lebih baik asal dia punya kesabaran. Namun jika dia menyerah, berputus asa dari rahmat Allah, ketika diberi ujian atau cobaan maka dia akan kehilangan segalanya. Ini disebabkan ketika dia menyerah maka berhentilah apa yang diusahakannya, tidak ada usaha, yang ada hanya kemunduran atau kehancuran. Seperti seorang ilmuwan yang sedang berusaha menemukan alat atau mesin. Ketika dia gagal dan putus asa, maka seluruh usaha yang dia curahkan selama ini akan sia-sia saja dan mesin itu akan hancur jika tidak diusahakan. Namun jika dia sabar dan tahan uji, maka dia akan berfikir terus untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki kesalahannya, dan terus berusaha atas penemuan mesinnya itu, hingga sukses. Inilah yang namanya peningkatan kualitas, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman untuk menjadi yang lebih baik. Dengan kesusahan dan kesulitan, manusia ini akan berfikir dan akan meningkatkan kemampuannya menjadi manusia yang lebih baik agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi jika manusia ini senang melulu dia akan lalai, lengah, tidak waspada, dan tidak akan mampu untuk berpikir karena tidak pernah susah. Jadi kesulitan dan kesusahan ini dengan kesabaran dapat meningkatkan qualitas dan mutu daripada manusia itu sendiri. Kesabaran menghadapi kesulitan dan kesusahan karena agama Allah inilah yang dinamakan Pengalaman Iman. Inilah maksudnya yang dikatakan dalam suatu riwayat bahwa Allah menyukai orang beriman yang kuat bukan yang lemah. Dia kuat dalam arti sabar dan tahan uji, bukan orang beriman yang lemah dan mudah putus asa dari rahmat Allah.

Sabar ini adalah salah satu daripada sifat Allah, As Shabur. Jadi Allahpun menghendaki kita agar mempunyai sifat sabar, sehingga datanglah kepada kita bermacam-macam ujian. Allah ingin melihat kalau kita tetap istiqomah dalam taat kepada Allah. Jika orang itu mampu istiqomah taat kepada Allah dalam keadaan apapun baru orang itu dapat dikatakan sabar. Yang dikatakan sabar itu bukanlah orang yang tenang tidak dalam keadaan tidak ada apa-apa, maksudnya tidak ada kesulitan dan tidak ada ujian atas nafsu. Seorang suami berkelakar, “Istri saya ini sabar sekali, kalau bulan muda (baru gajian), tetapi kalau sudah bulan tua ( belum gajian ) sudah tidak sabar lagi.“ Istri ini kalau bulan muda masih ada gaji atau uang yang cukup untuk keperluan dan kebutuhan, dia bisa tenang saja menunggu, tetapi ini bukanlah yang namanya sabar. Sabar itu bila ada kesusahan tidak berubah taatnya kepada Allah, tidak berubah daripada sifatnya, tetap mampu menjaga daripada sifat-sifat yang baik.

Namun pertanyaannya bagaimana mendapatkan sifat sabar ini ? Sifat-sifat tinggi atau yang mulia ini akan datang melalui keadaan yang bertentangan dengan nafsu atau dalam keadaan yang mujahaddah. Bagaimana kita mengetahui diri kita Sabar sebelum kita bertemu dengan orang pemarah ? Bagaimana kita bisa dapat sifat Tawakkal kepada Allah sebelum kita mendapatkan keadaan dimana kita tidak bisa lari kepada siapapun selain kepada Allah ? Begitu juga sifat-sifat mulia yang lain ini akan datang atau wujud dalam diri kita melalui cobaan-cobaan dalam keadaan-keadaan yang bertentangan dengan nafsu kita atau mujahaddah atas nafsu.

Jadi datangnya kesusahan-kesusahan kepada kita bukanlah maksudnya untuk menyusahkan kita, tetapi untuk menaikkan derajat kita supaya sifat kita menjadi sifat khalifah dan tetap menjaga ketaatan kepada Allah Ta’ala. Kadang-kadang Allah datangkan keadaan kepada kita dimana ada orang datang menyalahkan, menuduh, dan memarahi kita, padahal kita tidak berbuat salah, bahkan telah berbuat kebaikan kepada orang yang marah tersebut. Inipun jangan lantas kita salahkan orang itu, tetapi yang harus kita ingat adalah apa maksud Allah dibalik keadaan yang telah Allah berikan ini kepada saya. Apa maksud Allah merubah sikap orang itu berbuat buruk kepada kita ? inilah yang justru harus kita fikirkan, karena kita harus cari tahu apa kehendak-kehendak Allah atas diri kita saat itu. Kata ulama kalau ada orang berbuat salah kepada kita, maksud Allah bukan untuk menyusahkan kita tetapi ingin datangkan kepada kita sifat Pemaaf. Ini karena sifat pemaaf ini adalah datang daripada sifatNya Allah. Ini sifat tidak akan datang kepada kita jika tidak ada orang berbuat salah kepada kita. Kalau orang selalu berbuat baik kepada kita, tidak pernah berbuat salah kepada kita, maka tidak akan datang atau tidak akan ada sifat pemaaf pada kita. Sifat Pemaaf ini adalah salah satu sifat yang disukai Allah Ta’ala. Demikianlah juga para Nabi, walaupun mereka-mereka ini adalah orang-orang yang tidak berbuat salah, tetapi kaumnya berbuat berbagai macam keburukan dan kedzoliman kepada para Nabi mereka. Namun para Nabi ini memiliki sifat pemaaf, memaafkan daripada kesalahan kaumnya, bukan meminta dihancurkan. Bahkan para Nabi ini memohon kepada Allah agar sikap-sikap mereka itu dimaafkan, walaupun mereka telah dizolimi oleh kaumnya.

Seorang Arab bertanya kepada Ulama yang memberikan ceramah di mekkah, buat apa mereka itu dijadikan orang-orang yang menentang kepada agama seperti Firaun, Qorun, Hamman, Namrud, dan lain-lain. Kata dia lebih baik orang yang macam itu tidak usah diciptakan oleh Allah, supaya para Nabi ini lancar, dan usaha agama ini lancar. Buat apa diciptakan orang macam mereka itu. Lalu ulama ini menjawab dengan bijak, “Wahai saudara, adakah saudara mengetahui telur ayam ?” lalu jawab si arab tersebut, “Ya, saya mengetahui telur ayam.” Lalu si ulama ini bertanya lagi, “Kalau telur ayam itu dipecah terdiri daripada apa ? Telur ayam itu terdiri daripada kulit telur, putih telur, dan kuning telur. Kalau telur ayam itu menetas yang menjadi anak ayam itu adalah dari kuning telur dan putih telur. Kulit telor itu tidak akan bisa berubah menjadi anak ayam jika dipecah. Kalau telor tadi dimakan, digoreng maksudnya, itupun yang dimakan oleh manusia itu hanya kuning telur dan putih telur, tetapi kulit telor ini tidak dimakan. Jadi Kulit telor ini tidak bisa jadi anak ayam dan tidak bisa pula untuk dimakan. Kalau kita bertanya kepada Allah buat apa kulit telur itu diciptakan, tidak bisa dimakan dan tidak pula bisa jadi anak ayam. Tentu jawabannya telor tidak akan jadi anak ayam kalau tidak ada kulitnya. Dan telor tidak akan bisa dimakan kalau keluar daripada pantat ayam tanpa kulitnya, tidak ada yang mau memakannya. Ini karena isi telor tadi keluar tanpa kulit telur, sehingga menjadi najis. Jadi putih telur dan kuning telur ini akan bermanfaat jika ada kulit telur.” Begitu pula orang-orang yang berbuat salah kepada kita, yang menguji, atau para penentang agama, ini seperti kulit telur atas telor. Untuk menetaskan orang menjadi penyabar, menjadi pemaaf, menjadi beriman, adalah karena adanya orang-orang yang menentang kepada usaha agama ini. Jadi sebetulnya yang menaikkan derajat Nabi Musa AS, sampai kepada derajat Nabi yang Ulul Azmi ( 5 Nabi yang paling Mulia ), ini dikarenakan adanya tantangan daripada Firaun. Naiknya derajat Rasullullah SAW sampai kepada derajat Ulul Azmi dan derajat Sayyidul Anbiya karena penentangan daripada Abu Jahal, Abu Lahab, dan lain-lain.

Orang yang tahu akan hakekat Sabar dalam Mujahaddah ini, diceritakan dalam sebuah kitab, seorang syekh dipukuli sampai babak belur oleh seorang muridnya, padahal dia tidak bersalah. Tetapi Si syekh itu malah berdo’a, “Ya Allah ampuni muridku itu dan masukkan dia kedalam surgaMu.” Orangpun heran mengapa si syekh ini masih mau mendo’akan kebaikan untuk orang macam itu. Lalu si Syekh ini berkata bahwa dialah yang telah menaikkan derajatku menjadi sabar, supaya menjadi pemaaf, makanya aku berterima kasih kepada dia dengan mendo’akannya. Orang-orang yang faham akan hal ini, ketika mendapatkan kesulitan dalam menjalankan usaha agama ini, merupakan suatu anugrah, karunia, suatu nikmat yang besar dari Allah Ta’ala. Namun kita tidak boleh meminta didatangkan kesusahan karena setiap orang pasti diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesulitan. Nanti Allahlah yang menentukan waktu dan kadar daripada cobaan tersebut.

InsyaAllah bersedia semua kita amalkan sabar dan bermujahadah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s