JIHAD DI JALAN ALLAH SWT


11212783_1132554883436761_6812253709920855451_n

JIHAD di JALAN Allah … JIHAD FI SABILILLAH

<<< “BerJIHADlah terhadap kaum MUSYRIKIN dengan HARTA benda kamu, dan diri-DIRI kamu {NYAWA} dan lidah-LIDAH kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).>>>

jihad dari kata jahd = “LETIH/sukar”
JIHAD dari kata juhd = “KEMAMPUAN”
………………………………………………….
<<<<<<<< mati … MUNAFIK ??? >>>>>>>>>

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ, وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِهِ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Barangsiapa meninggal dunia sementara dia belum pernah berperang atau meniatkan diri untuk berperang, maka dia mati di atas satu cabang dari keMUNAFIKan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

“Seburuk-buruk sesuatu yang terdapat pada seseorang adalah kikir lagi suka berkeluh kesah dan pengecut lagi lemah.” (HR Abu Dawud)

﴾ At Taubah:68 ﴿
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
وَعَدَ ٱللَّـهُ ٱلْمُنٰفِقِينَ وَٱلْمُنٰفِقٰتِ وَٱلْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِينَ فِيهَا ۚ هِىَ حَسْبُهُمْ ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّـهُ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ ﴿التوبة:٦٨﴾
﴾ Al Fath:6 ﴿
dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنٰفِقِينَ وَٱلْمُنٰفِقٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّـهِ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ ٱلسَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ ٱللَّـهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا ﴿الفتح:٦﴾
……………………………………………….
diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhary:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ يَنْتَظِرُ حَتَّى إِذَا مَالَتْ الشَّمْسُ قَامَ فِيهِمْ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah pada sebagian harinya ketika berhadapan dengan musuh menunggu terbenamnya matahari. Kemudian beliau tampil di hadapan para sahabat dan bersabda: ”Wahai manusia, janganlah kalian berangan-angan ingin segera berjumpa dengan musush. Mohonlah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian berhadapan dengan musuh, maka bersabarlah. Dan ketahulaih bahwa SURGA berada DI BAWAH bayang-bayang PEDANG.” Kemudian Nabi berdiri dan berdoa: ”Allahumma munzilal-kitab wa mujriyas-sahab wa hazimal-ahzab, ahzimhum wanshurnaa ’alaihim” (Ya Allah, yang menurunkan Kitab, menggerakkan awan dan menghancurkan pasukan bersekutu, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami mengalahkan mereka.” (HR Muslim 3276)

دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اللَّهُمَّ اهْزِمْ الْأَحْزَابَ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ

Nabi berdoa pada saat perang Ahzab menghadapi (kepungan) Musyrikin: “Allahumma munzilal-Kitab, sari’al hisab. Allahummahzim Al-Ahzab, Allahummahzimhum wa zalzilhum.” (Ya Allah, yang menurunkan Kitab, cepat perhitungannya. Ya Allah hancurkanlah PASUKAN BERSEKUTU. Ya Allah, hancurkanlah mereka dan porak=porandakanlah mereka).” (HR Bukhary 2716)
………………………………………………………
A. Pendahuluan
Kata jihad terulang dalam al-Qur’an sebanyak 41 kali dengan berbagai bentuknya. Kata jihad terambil dari kata jahd yang berarti “letih/sukar”. Jihad memang sulit dan menyebabkan kelelahan. Ada juga yang berpendapat bahwa jihad berasal dari akar kata ”juhd” yang berarti “kemampuan”. Ini karena jihad menuntut kemampuan dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan.
Memang demikian, bahwa jihad merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia. Tampak pula kaitan yang sangat erat dengan kesabaran sebagai isyarat bahwa jihad adalah sesuatu yang sangat sulit, memerlukan kesabaran serta ketabahan.
Makna-makna kebahasaan serta maksud di atas mengenai jihad, dapat dikonfirmasikan dengan beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang jihad. Berikut ini firman Allah yang menunjukkan tentang jihad.

B. Q.S. At-Taubah Ayat 41
اِنْفِرُوْاخِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ ط ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (التوبة: 41)
“Berangkatlah baik dalam keadaan ringan ataupun berat, dan berjihadlah dengan harta kamu dan diri kamu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Qs. at-Taubah: 41).

C. Kata Kunci
Dan Berjihadlah Perintah : وَجَاهِدُوْا
Ringan ataupun berat kadar (ukuran) : وَثِقَالاً خِفَافًا
Kata khifafan adalah bentuk jamak dari (خَفِيْفٌ) yang berarti ringan, sedangkan tsiqolan adalah bentuk jamak dari (ثَقِيْلٌ) yang berarti berat.
Keduanya bisa terdapat pada tubuh dan sifat-sifatnya, seperti sehat, sakit, kurus, gemuk, semangat, malas, muda dan tua. Bisa pula terdapat pada sebab dan keadaan, seperti sedikit dan banyaknya harta ada dan tidaknya kendaraan, serta ada atau tidak adanya kesibukan.

D. Makna Global
Jika perintah untuk melaksanakan perang umum telah diumumkan, maka perintah itu wajib ditaati, semua orang dalam masyarakat muslim harus terlibat dalam mendukung jihad, kecuali dalam keadaan benar-benar tidak mampu/tidak memungkinkan, seperti dalam pada firman Allah Q.S. Al-Fath ayat 17:
لَيْسَ عَلَى اْلأَعْمَى حَرَجٌ وَلاَ عَلَى اْلأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلاَ عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ (الفتح: 17)
“Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang).”(Qs. al-Fath: 17).

Kita sudah mengetahui arti jihad, yaitu bisa berarti bekerja keras, bersungguh-sungguh maupun berjuang. Berperang mengadu tenaga dengan segala kemampuan dengan musuh, ini juga merupakan salah satu dari jihad. Maka dengan ayat ini diperintahkan tiap-tiap mukmin berjuang, bekerja keras, termasuk berperang, dengan harta benda dan dengan jiwa. Berjihad menegakkan jalan Allah. Mana yang kaya-raya, keluarkanlah harta, sebagaimana yang dilakukan oleh Usman bin Affan dengan barang-barang dagangannya yang diangkut oleh 100 ekor unta, mana yang kurang harta, tetapi badan kuat, berikanlah jiwa raga. Seperti hadits:
رَوٰى اَبُوْدَاوُدَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: جَاهِدُوالْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ وَاَلْسِنَتِكُمْ (رواه ابوداود عن اتس)

“Berjihadlah terhadap kaum musyrikin dengan harta benda kamu, dan diri-diri kamu dan lidah-lidah kamu.” (HR. Abu Daud, dari Anas).

Kata jihad dalam ayat tersebut mengandung pengertian peperangan, yaitu memerangi orang-orang ingkar dengan menggunakan senjata agar mereka takluk pada kekuasaan Allah/Islam.
Dari ayat itu jelaslah bahwa di dalam al-Qur’an, jihad tidak hanya digunakan untuk satu pengertian saja, namun digunakan untuk beberapa pengertian yang mengandung makna sebagai tabligh, dakwah, pemaksaan, kesungguhan ataupun peperangan.
Jadi, apabila dilihat apakah ayat tersebut masih relevan dengan makna jihad untuk konteks sekarang jelas sekali masih sangat relevan dikarenakan, bahwa ayat tersebut menjelaskan makna jihad bukan hanya dalam bentuk perang saja, akan tetapi jihad amatlah luas, seluas ajaran agama Islam yang mengatur seluruh sistem kehidupan manusia, dari masalah-masalah pribadi sampai masyarakat dan negara. Karenanya, seluruh sistem kehidupan yang diatur ajaran Islam secara otomatis mengandung unsur jihad. Perintah shalat, misalnya tidak terlepas dari unsur jihad. Jika seseorang mendirikan shalat, sebelumnya maka ia harus berjihad, yakni bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya agar mau melaksanakan shalat sebagaimana yang diperintahkan Islam.
Memang al-Qur’an menyebutkan bahwa yang pertama dan utama pada saat melakukan jihad adalah dengan harta, dengan kekuatan fisiknya maupun kesiapan mentalnya. Akan tetapi, pada dasarnya inti dari jihad adalah keimanan dan ketabahan. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Anfal ayat 65, yang berbunyi:
يَآاَيُّهَا النَّبِيُّى حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْفِتَالِ إِنْ يَّكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُوْنَ صَابِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِ وَإِيَّكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوْااَلْفًا مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوابِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَيَفْقَهُوْنَ (الانفال: 65)

“Hai Nabi, kabarkanlah semangat kaum Mukmin untuk berperang. Jika ada di antara kamu dua puluh orang yang sabar, maka mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Kalau ada diantara kamu seratus orang (yang sabar), maka mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, ini karena mereka (orang-orang kafir) tidak mengerti.” (Qs. al-Anfal: 65).

E. Munasabah
Setelah ayat yang lalu memerintahkan untuk keluar berperang bersama Rasul SAW, yaitu ayat 39 surat at-Taubah yang berbunyi:
اِلاَّ تَنْفِرُوْايُعَذِّبْكُمْ عَذَابًااَلِيْمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَتَضُرُّوْهُ شَيْئًا وَاللهُ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (التوبة: 39)
“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu.” (Qs. at-Taubah: 39).

Maka hal tersebut menjadi jelaslah bahwa perintah berjihad pada hakikatnya adalah kemaslahatan, dan karena itu ayat ini sekali lagi memerintahkan berangkatlah kamu semua menuju medan jihad dengan bergegas dan penuh semangat baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, kaya atau miskin, kuat atau lemah, masing-masing sesuai kemampuannya. Yang demikian itu ialah lebih baik bagi kamu ditinjau dari berbagai aspek duniawi dan ukhrawi. Jika kamu mengetahui betapa banyaknya sisi kebajikan yang disiapkan Allah bagi yang berjihad dan taat kepada-Nya, tentulah kamu akan melaksanakan perintah ini.

F. Asbabun Nuzul
Asbabun nuzul surat at-Taubah ayat 41 yaitu:
1. Di antara kaum muslimin ada terdapat orang-orang yang sakit atau terlalu lanjut usia, sehingga badan mereka merasa lemah untuk hadir dalam jihad. Karena kondisi yang demikian, maka mereka merasa berdosa karena tidak dapat hadir berjihad. Sehubungan dengan itu maka Allah SWT menurunkan ayat ke-41 sebagai ketegasan bahwa dalam kondisi seperti apapun mereka wajib mendatangi jihad, baik dengan perasaan ringan maupun berat, dengan harta maupun dengan jiwa raga. Jadi, bagi mereka yang lemah fisik, bisa dengan harta kekayaannya. (HR. Ibnu Jarir dari Hadhrami)
2. Ketika kaum muslimin diperintahkan pergi berjihad menyerang kota Tabuk, mereka merasa ogah-ogahan sebab mereka lebih senang menikmati hasil buah-buahan yang ketika itu sedang berbuah. Disamping itu, kondisi musim sangat panas, sehingga lebih senang bersantai-santai di bawah pohon ambil menikmati pemandangan dan buah-buahan. Sehubungan dengan itu, maka Allah SWT menurunkan ayat ke-41 sebagai teguran terhadap mereka. Jadi, dengan alasan apa pun mereka tetap berkewajiban mendatangi jihad. (HR. Ibnu Jarir dari Mujahid)

G. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ayat tersebut menjelaskan mengenai wajibnya berangkat ke medan jihad walau dalam keadaan ringan maupun berat. Apabila kaya raya, keluarkanlah hartanya, tetapi jika harta tidak ada namun memilik badan yang kuat dan sehat, maka berikanlah jiwa raganya untuk pergi berjihad di jalan Allah.

Melihat konteks kekinian {bukan dalam kondisi PERANG} mengenai jihad bisa diterapkan tidak hanya dalam menghadapi peperangan saja, walaupun memang diakui bahwa salah satu bentuk jihad adalah perjuangan fisik/perang, akan tetapi ada jihad yang lebih besar dari pada perang yaitu jihad melawan hawa nafsu.
Demikian terlihat bahwa jihad beraneka ragam, bukan hanya perang dan jihad melawan hawa nafsu saja yang penting. Akan tetapi kebodohan, kemiskinan dan penyakit merupakan jihad yang tidak kurang pentingnya daripada mengangkat senjata. Ilmuan berjihad memanfaatkan ilmunya, karyawan bekerja dengan karya yang baik, demikian seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s