KEUTAMAAN MEMAHAMI KALIMAT , Lailahai’lallah , = Tiada tuhan selain Allah swt , adalah dengan ilmu


11295661_1134636933228556_1346262082083217717_n

<<<< “… Banyak orang keliru dalam memahami hadits-hadits “Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah maka dia pasti masuk surga … ?” >>>>

<<< Hadiah Bagi Orang-Orang Berbudi Tentang Mawani’ Takfier Yang Mu’tabar Syaikh Muhammad Salim Walad Muhammad Al Amin Al Majlisiy Ditulis Di Penjara Sipil Nawakisyuth Mauritania 1428 H <<<

Kesalahan Di Dalam Memahami Hadits-Hadits Orang Yang Mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah

Ini adalah ungkapan-ungkapan yang bercahaya dalam membantah orang yang keliru dalam memahami hadits-hadits wa’ad (janji) bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah di mana mereka menghukumi keislaman orang yang mengucapkannya walaupun dia tidak melepaskan diri dari peribadatan selain Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para ‘Ubbadul Qubur dan yang lainnya.

Syaikh Muhammad Hamid Al Faqiy berkata:
كثير من الناس يخطئون في فهم أحاديث ” من قال لا إله إلا الله دخل الجنة ” فيظنون أن التلفظ بها يكفي وحده للنجاة من النار ودخول الجنة وليس كذلك، فإن من يظن ذلك من المغرورين لم يفهم ” لا إله إلا الله ” لأنه لم يتدبرها إذ أن حقيقة معناها البراءة من كل معبود والتعهد بتجريد كل أنواع العبادة لله سبحانه وحده، والقيام به على الوجه الذي يحبه ويرضاه، فمن لم يقم بحقها من العبادة أو قام ببعض أنواع العبادة ثم عبد مع الله غيره، من دعاء الأولياء والصالحين والنذر لهم ونحو ذلك، فإنه يكون هادماً لها، فلا تنفعه دعواه ولا تغني عنه شيئاً. ولو كان مجرد قولها كافياً، لم يقع من المشركين ما وقع من محاربة الرسول صلى الله عليه وسلم ومعاداته قال الله تعالى ﴿ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ﴾، وقال: ﴿ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ﴾، فمن لم يوف بها ويعمل بمقتضاها، لا ينفعه التلفظ، وكل من جعل شيئاً من العبادة لغير الله فهو إما جاهل بمعناها أو كاذب في ادعائه الإيمان وأولئك هم المغرورون الأخسرون أعمالا ﴿ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا ﴾

“Banyak orang keliru dalam memahami hadits-hadits “Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah maka dia pasti masuk surga” di mana mereka mengira bahwa pengucapannya saja cukup bagi keselamatan dari api neraka dan untuk masuk surga, padahal tidaklah demikian, karena sesungguhnya orang yang mengira hal itu dari kalangan orang-orang yang terpedaya tidaklah memahami Laa ilaaha illallaah karena dia tidak mentadabburinya, karena sesungguhnya hakikat maknanya adalah keberlepasan diri dari segala yang diibadati dan berjanji untuk memurnikan seluruh macam ibadah hanya bagi Allah saja, serta menegakkannya sesuai cara yang dicintai dan diridlai-Nya.

Oleh sebab itu barangsiapa tidak menegakkan haknya berupa ibadah atau dia menegakkan sebagian macam ibadah kemudian dia beribadah juga kepada yang lain di samping dia beribadah kepada Allah, seperti berdoa kepada para wali dan orang-orang shalih, nadzar bagi mereka serta hal serupa itu, maka sesungguhnya dia itu menggugurkannya, sehingga klaim keislamannya itu tidaklah berguna dan tidak bermanfaat sama sekali baginya. Dan seandainya sekedar pengucapan kalimat itu adalah cukup, tentu tidak akan terjadi dari kaum musyrikin itu apa yang terjadi berupa sikap memerangi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memusuhinya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang berhak diibadati) selain Allah…” (Muhammad: 19) dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: “…akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang bersaksi terhadap (tauhid) sedang mereka mengetahui(nya).” (Az Zukhruf: 86)”.

Barangsiapa tidak memenuhinya dan tidak mengamalkan konsekuensinya, maka pelafalannya tidaklah bermanfaat bagi dia. Dan setiap orang yang memalingkan sesuatu dari ibadah kepada selain Allah, maka dia itu bisa jadi orang yang jahil terhadap maknanya atau orang yang dusta dalam klaim imannya, sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang terpedaya lagi yang paling rugi amalannya “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 104)
Dan beliau rahimahullah berkata:
كثير من أدعياء العلم يجهلون ” لا إله إلا الله ” فيحكمون على من تلفظ بها بالإسلام ولو كان مجاهراً بالكفر الصراح، كعبادة القبور والموتى والأوثان واستحلال المحرمات المعلوم تحريمها من الدين ضرورة والحكم بغير ما أنزل الله، واتخاذ أحبارهم ورهبانهم أرباباً من دون الله، ولو كانت لهؤلاء الجهلة قلوب يفقهون بها لعلموا أن معنى ” لا إله إلا الله ” البراءة من عبادة غير الله، وإعطاء العهد والميثاق بالقيام بأداء حق الله في العبادة، يدل على ذلك قول الله تعالى: ﴿ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴾ وقد شهد النبي ص للخوارج بكثرة الصلاة والصيام وقراءة القرآن المشحون بلا إله إلا الله، ومع ذلك فقد حكم عليهم بالكفر وقال ( لو أدركتهم لقتلتهم قتل عاد ) كما في الصحيحين، ولو كان مجرد التلفظ بلا إله إلا الله كافياً ما وقعت الحرب والعداء بين الرسول ص وبين المشركين الذين كانوا يفهمون لا إله إلا الله أكثر مما يفهمها أدعياء العلم في هذا الزمن، ولكن طبع الله على قلوبهم فهم لا يفقهون

“Banyak orang dari kalangan pengklaim ilmu tidak mengetahui Laa ilaaha illallaah sehingga mereka menghukumi keislaman orang yang mengucapkannya walaupun dia itu terang-terang melakukan kekafiran yang nyata, seperti peribadatan kepada kuburan, orang-orang yang sudah mati dan berhala, penghalalan hal-hal yang diharamkan yang pengharamannya diketahui secara pasti dari dien ini (Ma’lum minaddien bidldlarurah), berhukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan, dan menjadikan para ulama dan rahib sebagai arbab (tuhan-tuhan/pembuat hukum) selain Allah.

Seandainya orang-orang jahil itu memiliki hati yang dengannya mereka memahami tentulah mereka mengetahui bahwa makna Laa ilaaha illallaah itu adalah keberlepasan diri dari peribadatan kepada selain Allah serta pemberian janji dan sumpah untuk menunaikan hak Allah di dalam ibadah. Hal itu ditunjukan oleh firman Allah ta’ala “Barangsiapa yang kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh kepada ikatan tali yang sangat kokoh yang tidak akan putus.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah: 256). Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersaksi bahwa Khawarij itu banyak melakukan shalat, shaum dan membaca Al Qur’an yang sarat dengan kalimat Laa ilaaha illallaah, namun demikian beliau telah menghukumi mereka kafir dan beliau berkata: “Seandainya saya mendapatkan mereka tentu saya telah membunuhi mereka seperti pembunuhan yang terjadi terhadap kaum ‘Aad” sebagaimana di dalam Ash Shahihain.

Dan seandainya sekadar pengucapan Laa ilaaha illallaah itu cukup tentu tidak akan terjadi peperangan dan permusuhan antara Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum musyrikin yang lebih memahami makna Laa ilaaha illallaah daripada para pengklaim ilmu pada zaman ini, akan tetapi Allah mengunci hati mereka sehingga mereka tidak memahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s