NIAT IKHLAS KARENA ALLAH SWT


10995394_1100829293275987_2733025424885551369_n

{bersihkan} “NIAT” … IKHLAS karena ALLAH …. {jangan} RIYA’, SUM’AH, UJUB (bangga diri), dan SOMBONG/TAKABUR

Secara bahasa, NIAT berarti sengaja atau sesuatu yang dimaksudkan atau tujuan dari keinginan. Sementara IKHLAS berasal dari kata khalasha yang maknanya ialah kemurnian, kejernihan, atau hilangnya segala sesuatu yang mengotori. Sehingga secara istilah syara, ikhlas adalah membersihkan niat dalam beribadah semata-mata hanya karena Allah. {REF … berbagai sumber}

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Tingkatan Niat:

Tingkatan Pertama ialah menjadikan ridho Allah sebagai satu-satunya penggerak amal yang dikerjakan. Itulah tingkatan yang utama bagi seorang mukmin.

Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. (QS. Al Anaam: 162)

Termasuk pula dalam tingkatan ini ialah mereka yang meniatkan setiap gerak dan diamnya karena mengharap ridho Allah semata, dan juga mereka yang beribadah karena takut akan siksa neraka dan berharap kenikmatan surga-Nya. Karena Allah SWT pun memerintahkan para hamba-Nya untuk takut terhadap azab-Nya di neraka, serta mengejar nikmat-Nya di surga.

Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al Baqarah: 24)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali ‘Imran: 133)

Tingkatan Kedua ialah mereka yang menjadikan niat mengharap ridho Allah itu bercampur dengan tujuan lainnya yang bersifat duniawi namun masih dalam lingkup fillah (dalam rangka karena Allah SWT) pada penghujungnya. Namun tujuan-tujuan lain tersebut tidak boleh menyamai atau bahkan lebih besar daripada niat karena Allah. Misalnya seseorang yang berpuasa dengan harapan ridho Allah dan harapan untuk kesehatan (dimana dengan sehat maka ibadahnya akan lebih terjaga), atau orang yang berwudhu untuk ridho Allah dan bercampur dengan keinginan menyegarkan badan (badan yang segar akan turut menyegarkan tubuh untuk mengingat Allah). Amal dengan niat bercampur seperti ini tidak dilarang, akan tetapi pahala yang didapat tidak sebesar mereka yang berada di tingkatan niat pertama.

Sesungguhnya apabila orang-orang yang berperang itu memperoleh harta rampasan, maka mereka mendapatkan terlebih dahulu dua pertiga balasannya (di dunia), dan jika tidak memperoleh apa-apa (harta rampasan), maka balasan bagi mereka menjadi utuh (di akhirat). (HR. Muslim)

Allah SWT pun tidak melarang perjalanan ibadah haji yang juga ditujukan untuk berniaga.

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. (QS. Al Baqarah: 198)

Sesungguhnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan, memiliki manfaat dunia dan akhirat. Namun akan lebih baik jika manfaat duniawi tersebut cukup dijadikan sebagai factor tambahan untuk penguat semangat, dan tidak menjadi sebab utama dalam beribadah.

Tingkatan Ketiga ialah niat untuk mencari ridho Allah yang bercampur dengan keinginan lain yang bersifat duniawi dan diluar dari lingkup fillah. Misalnya orang yang sholat dengan harapan ridho Allah dan juga keinginan untuk dipuji orang lain (riya). Tingkatan ketiga ini adalah terlarang, niat yang bercampur dengan riya akan membatalkan pahala dari amal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi: Aku adalah yang paling tidak butuh kepada serikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukKu lantas ia menserikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainKu, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia untuk yang dia serikatkan. (HR. Ibnu Majah)

Ada seorang datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang dijalan Allah untuk mencari pahala dan juga agar (namanya) dikenang manusia lainnya, apa yang akan ia peroleh? Nabi SAW menjawab: Ia tidak mendapatkan apa-apa. Lalu orang tersebut mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan semua jawaban dari Nabi juga sama: Ia tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali dengan niat ikhlas dan hanya mengharapkan balasan dari-Nya semata. (HR. An Nasai)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). (QS. Al Baqarah: 264)

Tingkatan Keempat adalah niat yang tidak ada di dalamnya harapan mencari ridho Allah atau memperoleh pahala, akan tetapi semata-mata mengejar kemanfaatan dunia. Niat seperti ini tidak memperoleh bagian pahala dari Allah, akan tetapi bila amalannya itu sesuai dengan sebab-akibat sunatullah yang Allah telah tetapkan, maka ia berkesempatan memperoleh manfaat dunianya saja.

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia (saja) dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka kerjakan di dunia dan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Hud: 15 16)

Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Quran hanyalah karena engkau.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Quran supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim)

Ada beberapa hal yang bisa merusak “NIAT Ikhlas karena Allah” , yaitu RIYA’, SUM’AH, UJUB (bangga diri), dan SOMBONG/TAKABUR

A. RIYA

*PENGERTIAN RIYA MENURUT BAHASA*
Pengertian Riya menurut Bahasa: riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية
/ru’yah, yang artinya menampakkan
Riya ’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia.

*PENGERTIAN RIYA MENURUT ISTILAH*:
Pengertian Riya Menurut Istilah yaitu: melakukan ibadah dengan niat
supaya ingin dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya /Fathul Baari/ berkata:
“Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu
mereka memuji pelaku amalan itu”.
Imam Al-Ghazali*,* riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia
dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut
kedudukan atau meminta dihormati daripada orang ramai dengan amalan yang
ditujukan untuk akhirat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa /riya’/ adalah melakukan amal
kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia
dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya
mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain
memberikan penghormatan padanya.

*JENIS-JENIS RIYA*
*/Riya’ /*dibagi kedalam dua tingkatan:
*/riya’ kholish/* yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk
mendapatkan pujian dari manusia,
*/riya’ syirik/* yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan
perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia,
dan keduanya bercampur”.

/Riya’/ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau
sebelum suatu ibadah selesai dilakukan

Perbuatan riya bila dilihat dari sisi amal/citra yang ditonjolkan
menurut Imam Al-Ghazali dapat dibagi atas 5 kategori, yaitu:

* Riya dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya
memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa
dan shalat tahajud;
* Riya dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai baju koko
agar disangka shaleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar
disangka rajin sholat.
* Riya dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan
agar disangka ahli agama.
* Riya dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak
shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh.
Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya
di masyarakat.
* Riya dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti
ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.

Jangan biarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sulit kita kumpulkan
hilang tanpa arti dan berbuah keburukkan lantaran masih ada riya di hati
kita. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya:

“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan
menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti
orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia
tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264)

/“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang
yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun 4-6)/

B. SUM’AH

*PENGERTIAN SUM’AH SECARA ETIMOLOGI/BAHASA*
Kata sum’ah (*السمعة*) berasal dari kata *سمّع* samma’a (memperdengarkan)
Kalimat samma’an naasa bi ‘amalihi digunakan jika seseorang menampakkan
amalnya kepada manusia yang semula tidak mengetahuinya.

*PENGERTIAN SUM’AH SECARA TERMINOLOGI/ISTILAH*
Pengertian sum’ah secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim
yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya
tidak diketahui atau tersembunyi- kepada manusia lain agar dirinya
mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau
mengharapkan keuntungan materi.
Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengetengahkan pendapat
Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa
riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan
sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah,
namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga, menurutnya
semua riya itu tercela, sedangkan sum’ah adalah amal terpuji jika ia
melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela
jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ
النَّاسِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264)
Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ
Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh
Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya. (HR.
Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan
aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya artinya
diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.
Na’udzubillah min dzalik.

C. UJUB

*PENGERTIAN SIFAT UJUB*
Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri
kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.
Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau
merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh
orang lain.”
Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang
pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan
keutamaannya kepada Alloh.”
Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki
oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu ? Allohk
berfirman :

“Bagi Alloh semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)

Maksud dari ayat di atas adalah apapun yang kita miliki, semuanya adalah
milik Alloh yang dipinjamkan kepada kita agar kita dapat memanfaatkannya
dan sebagai ujian bagi kita. Tidak seorangpun yang memiliki sesuatu di
alam semesta ini walaupun sekecil atom kecuali Alloh
**

*FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA SIFAT UJUB*

*1. Banyak dipuji orang*
Pujian seseorang secara langsung kepada orang lain, dapat menimbulkan
perasaan ‘ujub dan egois pada diri orang yang dipujinya. Makin lama
perasaan itu akan menumpuk dalam hatinya, maka ia akan semakin dekat
kepada kebinasaan dan kegagalan sedikit demi sedikit. Karena orang yang
mempercayai pujian itu akan selalu merasa bangga dan dirinya punya
kelebihan, sehingga menjadikannya malas untuk berbuat kebajikan.
Rosululloh pernah terkejut ketika melihat seseorang yang memuji orang
lain secara langsung, sampai-sampai beliau bersabda, “Sungguh dengan
pujianmu itu, engkau dapat membinasakan orang yang engkau puji. Jikalau
ia mendengarnya, niscaya ia tidak akan sukses.”

*2. Banyak meraih kesuksesan*
Seseorang yang selalu sukses dalam meraih cita-cita dan usahanya, akan
mudah dirasuki perasaan ‘ujub dalam hatinya, karena ia merasa bisa
mengungguli orang lain yang ada di sekitarnya dan tidak menyadari bahwa
segala sesuatu yang diraihnya adalah atas kehendak Alloh yang Maha Kuasa.

*3. Kekuasaan*
Setiap penguasa biasanya mempunyai kebebasan bertindak tanpa ada protes
dari orang yang ada di sekelilingnya, dan banyak orang yang kagum dan
memujinya. Fenomena semacam ini akan menyebabkan hati seseorang mudah
dimasuki perasaan ‘ujub. Seperti kisah Raja Namrud yang menyebut dirinya
sebagai Tuhan, karena dia menjadi seorang penguasa. Dan seandainya di
lemah dan miskin, tentulah tidak akan menyebut dirinya sebagai Tuhan.

*4. Tersohor di kalangan orang banyak*
Tersohor di kalangan orang banyak merupakan cobaan besar bagi diri
seseorang. Karena semakin banyak yang mengenalnya, maka dia semakin
kagum terhadap dirinya sendiri. Semuanya itu akan memudahkan timbulnya
perasaan ‘ujub pada hati seseorang.

*5. Mempunyai intelektualitas dan kecerdasan yang tinggi*
Orang yang mempunyai intelektualitas dan kecerdasan yang lebih, biasanya
merasa bangga dengan dirinya sendiri dan egois, karena merasa mampu
dapat menyelesaikan segala permasalahan kehidupannya tanpa campur tangan
orang lain. Kondisi seperti itu akan melahirkan sikap otoriter dengan
pendapatnya sendiri. Tidak mau bermusyawarah, menganggap bodoh
orang-orang yang tak sependapat dengannya, dan melecehkan pendapat orang
lain.

*6. Memiliki kesempurnaan fisik*
Orang yang memiliki kesempurnaan fisik seperti suara bagus, cantik,
postur tubuh yang ideal, tampang ganteng dan sebagainya, lalu ia
memandang kepada kelebihan dirinya dan melupakan bahwa semua itu adalah
nikmat Alloh yang bisa lenyap setiap saat, berarti orang tersebut telah
kemasukan sifat ‘ujub.

*7. Lalai atau tidak memahami hakikat dirinya sendiri.*
Apabila seseorang lalai atau tidak memahami hakikat bahwa dirinya
berasal dari air yang hina serta akan kembali ke dalam tanah, kemudian
menjadi bangkai, maka orang seperti ini akan mudah merasa bahwa dirinya
hebat. Perasaan seperti ini akan diperkuat oleh bisikan setan yang pada
akhirnya akan muncul sifat kagum terhadap diri sendiri.

*BAHAYA SIFAT UJUB*
Sifat ‘ujub membawa akibat buruk dan menyeret kepada kehancuran, baik
bagi pelakunya maupun bagi amal perbuatannya. Diantara dampak dari sifat
‘ujub tersebut adalah :

*1. Membatalkan pahala*
Seseorang yang merasa ‘ujub dengan amal kebajikannya, maka pahalanya
akan gugur dan amalannya akan sia-sia. Karena Alloh tidak akan menerima
amalan kebajikan sedikitpun kecuali dengan ikhlas karena-Nya. Rosululloh
n bersabda :
“Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu
yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thobroni).

*2. Menyebabkan Murka Alloh*
Nabi saw bersabda, “Seseorang yang menyesali dosanya, maka ia menanti
rahmat Alloh. Sedang seseorang yang merasa ‘ujub, maka ia menanti murka
Alloh.” (HR. Baihaqi)
Perasaan ‘ujub menyebabkan murka Alloh, karena ‘ujub telah mengingkari
karunia Alloh yang seharusnya kita syukuri.

*3. Terjerumus ke dalam sikap /ghurur /(terperdaya) dan takabur.*
Orang yang kagum pada diri sendiri akan lupa melakukan instropeksi diri.
Bersamaan dengan perjalanan waktu, hal itu akan menjadi penyakit
hatinya. Pada akhirnya ia terbiasa meremehkan orang lain atau merasa
dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan tidak mau menghormati orang
lain. Itulah yang disebut takabur. Nabi n bersabda, ” Tidak akan masuk
surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun
hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)

*4. Menyebabkan mengumbar nafsu dan melupaka dosa-dosa*
Seseorang yang mempunyai perasaan ‘ujub akan selalu menilai dirinya baik
dan tidak pernah menilai dirinya buruk dan serba kekurangan, sehingga ia
selalu mengumbar keinginan hawa nafsunya dan tidak merasa kalau dirinya
telah berbuat dosa. Nabi bersabda, “Andaikan kalian tidak pernah berbuat
dosa sedikitpun, pasti aku khawatir kalau kalian berbuat dosa yang lebih
besar, yaitu perasaan ujub.” (HR. Al Bazzar).

*5. Menyebabkan orang lain membenci pelakunya.*
Pada umumnya, orang tidak suka terhadap orang yang membanggakan diri,
mengagumi diri sendiri dan sombong. Oleh karena itu, orang yang ‘ujub
tidak akan banyak temannya, bahkan ia akan dibenci meskipun luas ilmunya
dan terpandang kedudukannya. Syeikh Mustofa As Sibai berkata, “Separuh
kepandaian yang disertai tawadhuk lebih disenangi oleh orang banyak dan
lebih bermanfaat bagi mereka daripada kepandaian yang sempurna yang
disertai kecongkakan.”

*6. Menyebabkan Su’ul Khotimah dan kerugian di Akherat*
Nabi bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebut-nyebut
kembali pemberiannya, seorang yang durhaka, dan pecandu minuman keras.”
(HR. Nasa’i)

Orang yang mempunyai sifat ‘ujub biasanya suka menyebut-nyebut kembali
sesuatu yang sudah diberikan.

Umar Ra pernah berkata,”Siapapun yang mengakui dirinya berilmu, maka ia
seorang yang bodoh dan siapapun yang mengaku dirinya akan masuk surga,
maka ia akan masuk neraka.”

Qotadah berkata, “Barangsiapa yang diberi kelebihan harta, atau
kecantikan, atau ilmu, atau pakaian, kemudian ia tidak bersikap
tawadhuk, maka semua itu akan berakibat buruk baginya pada hari kiamat.”
**

*CARA MENANGGULANGI SIFAT UJUB *
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh setiap orang muslim agar
dirinya terhindar dari penyakit ‘ujub, diantaranya adalah :

*1. Selalu mengingat akan hakikat diri*
Orang yang kagum pada diri sendiri hendaknya sadar bahwa nyawa yang ada
dalam tubuhnya semata-mata anugerah Alloh l. Andaikan nyawa tersebut
meninggalkan badannya, maka badan tidak ada harganya lagi sama sekali.
Dia harus sadar bahwa tubuhnya pertama-tama dibuat dari tanah yang
diinjak-injak manusia dan binatang, kemudian dari air mani yang hina,
yang setiap orang merasa jijik melihatnya, lalu kembali lagi ke tanah
dan menjadi bangkai yang berbau busuk dan setiap orang tidak suka
mencium baunya.

*2. Selalu sadar akan hakikat dunia dan akherat*
Hendaklah seseorang selalu sadar bahwa dunia adalah tempat menanam
kebahagiaan kehidupan akherat. Dia harus sadar bahwa sekalipun umurnya
panjang, namun tetap akan mati, kemudian hidup di sebuah kampung abadi
yaitu akherat. Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang untuk
meluruskan akhlaknya yang bengkok, sebelum nafasnya meninggalkan
jasadnya dan sebelum hilang kesempatan untuk bertaubat.

*3. Selalu mengingat nikmat Alloh*
Alloh berfirman :
“Dan jika kamu menghitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak akan dapat
menghitungnya.” (QS. Ibrohim : 34)
Dengan kesadaran seperti ini, seseorang akan merasa lemah dan merasa
butuh kepada Alloh, sehingga dia akan membersihkan diri dari penyakit
kagum diri dan berusaha terhindar darinya.

*4. Selalu ingat tentang kematian dan kehidupan setelah mati*
Kesadaran seperti ini akan mendorong seseorang meninggalkan perasaan
kagum diri karena takut akan berbagai kesengsaraan hidup setelah mati.

*5. Tidak berkawan dengan orang yang kagum diri*
Sebaiknya, berkawanlah dengan orang-orang yang tawadhuk dan memahami
status dirinya. Hal semacam itu sangat membantu seseorang untuk
meninggalkan perangai buruk kagum diri.

*6. Memperhatikan keadaan orang yang sedang sakit, bahkan keadaan orang
yang meninggal dunia, ziarah kubur dan merenungkan keadaan ahli kubur*
Cara semacam ini akan mendorong seseorang untuk meninggalkan perasaan
kagum diri dan panyakit hati lainnya.

*7. Selalu bermuhasabah (Introspeksi diri)*
Dengan demikian, mudah dideteksi gejala awal dari segala bentuk penyakit
hati, terutama penyakit kagum diri. Dengan demikian, penyakit ini akan
mudah diobati.

*8. Selalu memohon bantuan dari Alloh*
Dengan cara berdoa dan senantiasa memohon perlindungan dari-Nya agar
terhindar dari penyakit kagum diri dan tidak terjerumus ke dalamnya.

*9. Penyembuhan dengan Al Qur’an*
Al Qur’an sangat mujarab untuk mengobati berbagai penyakit hati,
khususnya penyakit ‘ujub dan berbagai sebabnya. Karena Al Qur’an telah
mengenalkan diri kita kepada Alloh, dan Al Qur’an juga telah mengenalkan
diri kita kepada kita, yaitu kelemahan, kemiskinan, dan kebutuhan kepada
Alloh. Maka tidaklah pantas jika seseorang mengagumi dirinya sendiri
sementara dia adalah makhluk yang tak mampu berdiri sendiri. Al Qur’an
juga telah mengingatkan kita akan akibat dari penyakit ‘ujub, sombong,
dan bangga diri. Seperti halnya kisah Fir’aun, Qorun, dan lain sebagainya.

Imam Syafi’i rohimahumulloh berkata :
“Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri secara berlebihan, niscaya
Allah akan menjatuhkan martabatnya”
*DAMPAK SIFAT UJUB*
1. Jatuh pada sifat sombong dan terperdaya.
3. Munculnya kebencian terhadap orang lain.
4. Mendapat adzab dari Allah SWT

D.TAKABUR

*PENGERTIAN TAKABUR*
Takabur berasal dari bahasa arab Takabbara-Yatakabbaru yang artinya
sombong atau membanggakan diri sendiri. Takabur semakna dengan Ta’azum,
yaitu menampakkan keagungannya dan kebesarannya dibandingkan dengan
orang lain. Dalam bahasa indonesia banyak sekali istilah lain dari
takabur ini antara lain, sombong, congkak, angkuh, tinggi hati atau
besar kepala.
Secara naluri setiap orang tidak menyukai sifat takabur atau sombong.
Namun disadari atau tidak terkadang seseorang akan menampakan akan sikap
sombongnya, biasanya sifat ini timbul manakala ia merasa memiliki nilai
lebih, seperti lebih pandai, lebih kaya, lebih cantik. Sebagai seorang
muslim sudah seharusnya menghindari sifat takabur ini, karena teladannya
adalah Rasulullah SAW, yang meskipun penuh dengan kemuliaan dan
kelebihan, namun beliau tetap tidak merasa lebih bahkan para pengikutnya
dipanggil dengan sebutan sahabat, yang mempunyai arti kesetaraan.

Sifat takabur ini merupakan sifat tercela dan berbahaya, bahkan dibenci
oleh Allah SWT, sebagaimana firman-firmannya :
“maka masuklah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya, maka
amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri”. (Q.S An Naml
: 29) ..
“sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. (Q.S An
Nahl : 23)

*MACAM-MACAM TAKABUR*
Dari segi obyek atau sasarannya takabur menjadi tiga :
1. Takabur kepada Allah SWT, yaitu keadaan seseorang yang tidak mengakui
dan menerima kebenaran yang datang dari Allah SWT, seperti perintah
shalat, zakat dan yang lainnya.
2. Takabur kepada Rasulullah.
3. Takabur terhadap sesama manusia, hal ini biasannya terlihat dari
hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti kekayaan, kedudukan, wajah atau
kepandaian.

Menurut pandangan tersebut di atas, secara umum takabur dapat dibagi
menjadi dua macam yaitu :
*1) Takabur Batini ( Takabur dalam sikap )*
Takabur batini atau batin adalah sifat takabur yang tertanam dalam hati
seseorang sehingga tidak tampak secara lahir/fisik, seperti seseorang
yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah swt. padahal dia
mengetahui kebenaran tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari orang yang termasuk golongan takabur batin
memiliki sikap, antara lain enggan minta tolong kepada orang lain
meskipun ia membutuhkan serta tidak mau berdoa untuk memohon pertolongan
Allah swt. padahal semua persoalan yang kita hadapi tidak dapat
diselesaikan sendiri tanpa pertolongan-Nya
Allah swt. berfirman :
Artinya : “Kuperkenankan (Kukabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang
yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam
dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mukmin: 60)

*2) Takabur Zahiri ( Takabur dalam Perbuatan )*
Takabur zahiri adalah sifat takabur yang dapat dilihat langsung dengan
panca indra, seperti dalam bentuk ucapan dan gerakan anggota tubuh.
Contohnya, riya, angkuh, dan memalingkan muka terhadap orang lain. Allah
swt. tidak menyukai orang-orang yang memalingkan muka (sombong)
sebagaimana terdapat dalam Surah Luqman Ayat 18 berikut.
Artinya : “ janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s