Definisi Dakwah


11402711_1052525294759392_3192055896612801870_n

Dakwah sebagai tugas mulia dan sebagai perkara yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim. Seorang muslim tersebut juga harus dapat mengemban tugas ini dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan tuntunan syari’at di dalam Islam itu sendiri.

Dakwah juga adalah perkara besar yang agung dan utama, tak sebanding dengan segala perkara lain yang ada di dunia. Allah SWT mengutus ribuan nabi dan rasul hanya untuk perkara ini saja. Berdakwah di tengah-tengah umatnya, membacakan ayat-ayat-Nya, membangkitkan jiwa-jiwa, memberi petunjuk kepada manusia, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya nan abadi, dan menjelaskan kebenaran kepada mereka.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu’ah [62] : 2)

Banyak nash-nash syariat yang menyebutkan kewajiban dakwah bagi setiap individu baik muslim maupun muslimah. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR. Bukhari]

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Muslim]

Tidak hanya itu saja, seorang Muslimah maupun muslimah juga diperintahkan untuk berjihad fisabilillah, baik dengan harta dan jiwa mereka. Bahkan, ia diperintahkan untuk mendahulukan jihad fisabilillah di atas aktivitas yang lain. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” [al-Taubah:24]

Ketika kesyirikan menyebar di tengah umat manusia, kejahilan manusia, batu disembah, thogut di puja puja Allah SWT mengutus Nabi-nabi untuk berdakwah. Ketika penjajahan dan kekejaman merajalela. Bukan untuk membuat tentara tandingan, melainkan untuk berdakwah. Ketika penyimpangan seksual merajalela dan kemaksiatan sudah terjadi dimana-mana, Allah SWT pun mengutus Nabi Luth ‘As untuk berdakwah. Ketika seluruh kemaksiatan, kedzoliman, dan seluruh bentuk penentangan terhadap hukum-hukum Allah SWT terjadi pada kaum kafir Quraisy, Allah SWT mengutus Rasulullah SAW untuk berdakwah.

Setiap kali kerusakan melanda umat manusia di zaman dulu, semisal kerusakan moral, susila, kebudayaan, tatanan masyarakat, sistem politik, ekonomi dan kerusakan lainnya, Allah SWT mengutus para nabi dan rasul. Semua mengemban amanat perbaikan dan kebangkitan, tujuan asasinya adalah penyelamatan massal dari kesempitan, bencana besar di dunia dan akhirat dari azab sang Kholik dan sebagai perbaikan akhlak setiap manusia, dengan amal dakwah.

Dan kini, saat banyak sekali terjadi kesyirikan dan pergeseran keyakinan. tontonan sihir makin semarak di televisi, dinikmati dari anak-anak sampai orang dewasanya, menyebarkan racun mematikan. Aurat wanita dipajang dan diumbar. Para penantang Allah SWT bermunculan di kampus-kampus, faham liberal, atheis, sekuler dikembangbiakkan. Kelompok sesat bermunculan merekrut kaum awam. Pergaulan muda-mudi telah melewati batas kesopanan. Korupsi, narkoba dan miras hampir menjadi budaya. “……Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122)

Semua adalah pembangkangan nyata terhadap perintah dan larangan Allah SWT, mengundang murka dan azab-Nya. Bahkan azab-azab itu pun telah berdatangan. Banjir, gempa, angin topan, tanah longsor, kebakaran, letusan gunung berapi, pesawat jatuh, kapal tenggelam semua terjadi silih berganti.

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah SWT menimpakan mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar –Rum [30] : 41)

Adakah jawaban untuk semua keterpurukan dan bencana ini? Dakwah lah solusinya!

Semua bencana dan keterpurukan itu akan terus berlangsung sampai kita semua terbinasakan. Bila kita tidak bangkit!.

Kita semua harus bangkit bersama-sama! Kita harus mewujudkan kebangkitan total! Bukan kebangkitan yang berorientasi kepada keduniaan semata. Kebangkitan sejati adalah kebangkitan ruhani yang kuat dan menyeluruh, yaitu terwujudnya di masyarakat kita ini dominasi penitian Sirotulmustaqim, penitian jejak-jejak Rasulullah dan para sahabatnya.

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?

Jalan utama untuk melenyapkan keterpurukan ruhani adalah pencerahan jiwa-jiwa dengan dakwah yang benar. Jiwa-jiwa yang tercerahkan dengan dakwah yang benar akan bangkit dan bergerak meninggalkan semua elemen-elemen keterpurukan tadi serta akan menggantikannya dengan penitian Sirotulmustaqim secara kaffah di seluruh lapangan kehidupan. Tujuan utama melenyapkan keterpurukan ruhani adalah meraih kebahagiaan surga dan keselamatan dari neraka. Sekalipun demikian, terwujudnya kebangkitan ruhani pun pasti akan menghasilkan kecemerlangan dunia.

”Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka”. (QS. al-A’rof [7]: 96)

Kita harus segera memulai suatu gerakan kebangkitan mengikuti jejak para nabi dan rasul, para pembangkit yang mulia. Kita juga harus melibatkan semua orang, keluarga, kerabat maupun teman. Saat kita merenungi kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka dapat kita temukan bahwa tak ada satu pun dari mereka kecuali mengajak anggota keluarganya, temannya, bahkan semua orang yang dikenalnya, untuk sama-sama berdakwah sesuai kemampuan. Pertama kali wahyu turun pada Rasulullah SAW, beliau menyampaikannya pada istri tercinta, lalu temannya, keponakannya, dan semua orang yang beliau kenal.

Allah SWT telah menjadikan dakwah sebagai solusi permasalahan umat dari zaman ke zaman. Jika kita mentadabburi al-Qur’an, sebagian besar isinya bercerita kisah-kisah dakwah dan bagaimana cara para nabi dan rasul berdakwah. Oleh karena itu, umat ini wajib mengambil dan memikul tugas dakwah, sebagaimana dulu para sahabat nabi R.a tuntas menunaikannya.

Sekarang waktunya membuat keputusan! Permasalahan umat sudah ada di depan mata dan tugas-tugas besar menunggu untuk kita tunaikan. Mari berlelah-lelah untuk agama Allah SWT, mari kita berkorban lagi dan lagi sampai saatnya kelak Allah SWT menyatakan keridhoan-Nya. Mari saudaraku… alangkah nikmatnya ketika kita berlelah-lelah untuk dakwah dan tidur dalam kelelahan setelah berdakwah, sehingga kelak Allah SWT pertemukan kita dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Saudaraku…. pada dasarnya, setiap Muslim dan Muslimah diwajibkan untuk mendakwahkan Islam kepada orang lain, baik Muslim maupun Non Muslim. Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah SWT :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ

ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.[an-Nahl:125]

Masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan kewajiban dakwah atas kaum Mukmin, baik dakwah yang dilakukan oleh individu, kelompok, maupun negara. Di dalam Sunnah juga dituturkan tentang kewajiban melakukan dakwah. Di dalam sebuah hadits diceritakan, bahwasanya:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di dalam genggaman tanganNya, sungguh kalian melakukan amar makruf nahi ‘anil munkar, atau Allah pasti akan menimpakan siksa; kemudian kalian berdoa memohon kepada Allah, dan doa itu tidak dikabulkan untuk kalian.” [HR. Turmudziy, Abu ‘Isa berkata, hadits ini hasan]

Hadits-hadits di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa dakwah merupakan kewajiban seorang Muslim dan Muslimat. Kewajiban dakwah tak ubahnya dengan kewajiban-kewajiban yang lain.

Jika seseorang meninggalkan dakwah, ia akan mendapatkan dosa, seperti halnya jika ia meninggalkan sholat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan, jika seseorang meninggalkan aktivitas dakwah, dan berdiam diri terhadap kemungkaran, niscaya Allah SWT tidak akan mengabulkan doa-doanya. Lebih dari itu, Allah juga akan menimpakan adzab secara merata, tidak hanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan belaka, akan tetapi semua orang yang ada di dalam komunitas tersebut, jika dakwah telah ditinggalkan.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemungkaran itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya.

Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” [HR. Imam Ahmad] Riwayat-riwayat di atas merupakan dalil yang shahih mengenai kewajiban dakwah atas setiap Mukmin dan Muslim.

Bahkan, Allah SWT mengancam siapa saja yang meninggalkan dakwah Islam, atau berdiam diri terhadap kemaksiatan dengan “tidak terkabulnya doa”. Bahkan, jika di dalam suatu masyarakat, tidak lagi ada orang yang mencegah kemungkaran, niscaya Allah akan mengadzab semua orang yang ada di masyarakat tersebut, baik ia ikut berbuat maksiaat maupun tidak.

Kenyataan ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa hukum dakwah adalah wajib, bukan sunnah. Sebab, tuntutan untuk mengerjakan yang terkandung di dalam nash-nash yang berbicara tentang dakwah datang dalam bentuk pasti. Indikasi yang menunjukkan bahwa tuntutan dakwah bersifat pasti adalah, adanya siksa bagi siapa saja yang meninggalkan dakwah. Ini menunjukkan, bahwa hukum dakwah adalah wajib.

Urgensi Dakwah

Pada dasarnya, urgensitas dakwah bagi kehidupan manusia telah digambarkan oleh Rasulullah SAW di dalam sebuah haditsnya,”

مَثَلُ القَائِم عَلى حُدُودِ الله وَالرَاقِع فِيها كَمثلِ قَوم اشتَهَمُّوا عَلى سَفِينَةٍ فَأصَابُ بَعضهُم أَعْلاهَا وَبَعْضُهُم أَسْفَلهَا فَكانَ الَّذِينَ في أَسْفَلِهَا اِذَا اسْتَقُوْا مِن اْلماَءِ مرُّوْا عَلى مَنْ فَوْقهُمْ، فَقَالُوْا لَوْ أَنا خَرَقْنَا في نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَم نُؤْذِ مَنْ فَوْقِنا، فَإِنْ تَرَكُوْهُم وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا، وَإِنْ أَخَذُوْا عَلى أَيْدِيْهِمْ نَجُّوْا وَنَجُّوْا جَمِيْعًا

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah semuanya“. (HR. Bukhari)

Pentingnya Dakwah

Merupakan kebutuhan yang mendesak, karena tanpa dakwah manusia akan rusak dan tanpa aturan. Di lain pihak banyak penyeru / pengajak ke arah kebathilan yang tidak henti-hentinya juga berdakwah untuk kebatilan.
Merupakan kebutuhan sosial, yaitu dengan alasan :
Karena manusia membutuhkan orang yang menjelaskan kepada mereka apa-apa yang diperintahkan oleh Allah (36:6; 17:15).
Karena kondisi kehidupan umat saat ini diwarnai oleh kerusakan –kerusakan moral, dan para pelakunya ingin agar kerusakan-kerusakan terssebut tersebar di masyarakat (4:89; 9:67).
Kewajiban yang dituntut syar’i.
Da’wah adalah wajib atas setiap muslim (3:104-110; 9:71). Dari Nu’man bin Basyir ra, dari Nabi SAW, ia berucap bahwa Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang senantiasa melaksanakan hukum-hukum Allah dan orang yang terperosok di dalamnya adalah laksana orang-orang yang membagi tempat dalam suatu bahtera, di mana ada sebagian orang yang duduk di atasnya, ada pula yang di bawahnya. Ketika orang-orang yang ada di bagian bawah memerluka air, tentu mereka harus melintasi orang-orang yang ada di bagian atas. Kemudian mereka berkata, “Kami akan lubangi saja bagian bawah ini.” Jika mereka (orang-orang yang ada di bagian atas) membiarkan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang ada di bagian bawah, niscaya akan binasalah semua. Namun bila mereka mencegah perbuatan mereka, maka akan selamat dan selamatlah semua.” (HR. Imam Bukhari dan Tirmidzi)
Dari Abu Sa’is al-Khudri ra, ia berucap, Kudengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu pula, maka ubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian itu selemah-lemahnya iman.” (HR. Imam Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Adanya ancaman bagi yang tidak berdakwah. Lihat QS 2:174; 3:187; 16:44.
Merupakan tugas kita untuk meneruskan misi perjuangan para nabi dan rasul (42:13).

Masih banyak lagi dalil dan hadits mengenai kewajiban di dalam berdakwah. Dakwah adalah sebuah tugas yang mulia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s