AURAT TUBUH


AURAT

LELAKI … sangat LEBIH MENJAGA AURAT daripada WANITA ….
………………….
LELAKI pun juga SERING MENUTUP TUBUH nya sampai tidak bisa dikenali?
misalnya memakai masker/penutup wajah, terutama saat di jalan, apalagi saat naik motor, atau naik mobil yg berkaca gelap sehingga orang disekitarnya tidak bisa mengenalinya. Bahkan terkadang lelaki membeli bensin di pom sambil wajahnya tertutup masker dan helm sampai tak bisa dikenali (padahal transaksi jual beli). Tidak penting untuk dikenali lelaki yang bukan mahrom, justru banyak dampak negatifnya.

AURAT PRIA

Aurat sesama lelaki –baik dengan kerabat atau orang lain- adalah mulai dari pusar hingga lutut. Demikian menurut ulama Hanafiyah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

فَإِنَّ مَا تَحْتَ السُّرَّةِ إِلَى رُكْبَتِهِ مِنَ الْعَوْرَةِ

“Karena di antara pusar sampai lutut adalah aurat.” (Riwayat Ahmad 2/187, Al Baihaqi 2/229. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini hasan)
………………….
AURAT WANITA

1 SELURUH TUBUH WANITA ADALAH AURAT

Para ulama yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat dan karenanyamuka serta kedua telapak tangan juga wajib ditutup, di antaranya beralasan : Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Qur’an Surah Al-Ahzab:53 yang artinya,

“Dan apabila kamu memintasesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (Qur’an Surah Al-Ahzab: 53).

Ayat ini turun ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikahi Zainab binti Jahsy. Rasulullah lalu mengadakan walimah dan mengundang para sahabat untuk menghadirinya. Setelah hampir seluruh sahabat pulang, ada beberapa orang yang tetap saja diam tidak segera pulang. Padahal Rasulullah saat itu, sudah lelah dan sudah berharap agar para sahabat segera meninggalkannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam saat itu ditemani oleh Zainab terus keluar masuk dengan maksud agar para sahabat memahami dan segera pulang. Tidak lama kemudian, turunlah ayat ini yang memerintahkan agar Rasulullah memberikan tabir (hijab, penghalang) antara para sahabat dengan isterinya itu dengan maksud agar para sahabat tidak dapat melihat isterinya, Zainab binti Jahsy.Oleh mereka yang berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya berpendapat bahwa ayat ini merupakan dalil bahwa wanita harus menutup seluruh tubuhnya termasuk muka dan kedua telapak tangannya. Buktinya, dalam ayat di atas, Zainab binti Jahsy pun disuruh untuk melakukan hal itu; membatasinya dengan memakai hijab, penghalang. Kalau seandainya muka dan kedua telapak tangan boleh dibuka dan tidak ditutup, tentu Allah tidak akan memerintahkan Rasulullah untuk memasang hijab.

2. KAKI DAN KEPALA TIDAK AURAT

Sedangkan alasan kelompok kedua yang mengatakan bahwa aurat wanita seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan, oleh karenanya, menutup muka dan telapak tangan bukanlah sebuah kewajiban akan tetapi sunnah saja, sebagaimana Firman Allah pada Qur’an Surah An-Nur: 31.

“Kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (Qur’an Surah An-Nur: 31).

Menurut kelompok ini, bahwa dalam ayat di atas Allah mewajibkan wanita untuk menutup seluruh tubuhnya karena aurat, hanya saja, Allah mengecualikan dua hal yang biasa nampak. Dan dua hal yang biasa nampak yang dikecualikan dalam ayat di atas, menurut kelompok ini,adalah muka dan telapak tangan. Hal ini didasarkan kepada hadits-hadits berikut ini :

“Dari Ibnu Abbas, menceritakan kisah ceramah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk para wanita pada hari raya, kemudian beliau menyuruh mereka para wanita untuk sedekah. Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah lalu memerintahkan mereka kaum wanita untuk bersedekah, dan saya melihat tangan-tangan mereka melemparkan cincin gelang pada baju Bilal yang dihamparkan.” (Riwayat Bukhari)

Beberapa ulama menyatakan, perempuan diharuskan menutup telapak kakinya ketika shalat, seperti yang sering dipraktekkan umat Islam Indonesia. Tetapi, bagi ulama mazhab Hanafi, seperti dituturkan az-Zaila’i, hadis ini dianggap lemah, termasuk oleh Ibnal-Jawzi dan Ibn Hatim (Nashb ar-Rayah, juz II, h. 300). Karenanya, ulama Hanafi memperkenankan telapak kaki perempuan untuk terbuka, di dalam dan di luar sholat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s