QANA’AH UNTUK DUNIA, BUKAN UNTUK AKHIRAT


hisabOleh :
Ustadz Firanda Andirja MA Hafidzahullah

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla,

Untuk masalah akhirat, Allãh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk bersegera, berlomba dan bercepat-cepatan.

Kata Allãh Subhānahu wa Ta’āla:

• ⑴ Āli ‘Imrān: 133

وَسَارِعُوْا..

“Cepatlah.. ”

• ⑵ QS Al Baqarah: 148

فَٱسۡتَبِقُوْا ٱلۡخَيۡرَٲتِ‌ۚ

“Berlomba-lombalah..”

• ⑶ QS Al Muthãffifin: 26

وَفِى ذَٲلِكَ فَلۡيَتَنَافَسِ ٱلۡمُتَنَـٰفِسُونَ

“Dan untuk urusan ini (surga) hendaknya mereka berlomba-lomba.”

Oleh karenanya, dalam masalah akhirat tidak boleh ada namanya qana’ah.

Qana’ah itu dalam masalah dunia.

Kita, tatkala beribadah jangan pernah puas dengan apa yang telah kita lakukan.

Kita berusaha semakin meningkatkan ibadah kita.

Kenapa?

Karena kita mengejar umur kita. Umur kita hanya sebentar (sesaat) di muka bumi ini.

Berbeda halnya dengan masalah dunia. Kalau masalah dunia, Rasūlullāh sallallāhu ‘alayhi wasallam mengajarkan kita untuk qana’ah.

Apa kata Nabi sallallāhu ‘alayhi wasallam?

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ.

“Lihatlah ke bawah untuk urusan dunia, janganlah lihat ke atas, (kalau engkau lihat ke bawah) niscaya engkau tidak akan meremehkan nikmat yang Allãh berikan kepada engkau.”

(HR Bukhāri dan Muslim)

Kenapa?

Kalau kita lihat ke atas dalam masalah dunia, tidak akan pernah ada namanya titik klimaks.

Tidak ada namanya kepuasan dalam dunia.

Seseorang kalau diberi dunia dia akan mencari yang lebih, karena dunia ini ibarat air laut yang asin; semakin diminum semakin haus, dicoba lagi semakin haus lagi.

Rasūlullāh sallallāhu ‘alayhi wasallam juga mengatakan dalam haditsnya mengabarkan akan hal ini.

Kata Rasūlullāh sallallāhu ‘alayhi wasallam:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ إِلاَّ التُّرَابُ

“Seandainya anak Ādam memiliki 2 lembah emas (berisi emas semua sehingga emasnya luar biasa banyak), sungguh dia akan mencari lembah yang ke-3 dan dia tidak akan berhenti kecuali kalau mulutnya sudah diisi dengan tanah (sudah meninggal dunia).”

(HR Bukhāri no. 6436 dari shahābat Ibnu ‘Abbās)

Makanya dalam urusan dunia Rasūlullāh sallallāhu ‘alayhi wasallam menyuruh untuk qana’ah (lihat ke bawah).

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tahu, banyak orang yang terlalaikan dari akhirat.

Gara-gara apa?

Bukan gara-gara tidak berkecukupan, tetapi sudah cukup namun tidak puas.

Dan itulah yang Allãh sebutkan dalam Al Qurān:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)

“(Sungguh) Sikap memperbanyak (berlomba-lomba untuk memperbanyak) telah melalaikan kalian sampai kalian masuk ke dalam liang lahat.”

(QS At Takātsur: 1-2)

Sebagian ulama menjelaskan; yang menjadikan orang-orang terlalaikan dari akhirat bukan karena kekurangan, tetapi karena dia sudah berkecukupan namun tidak puas.

Ada seseorang yang sudah memilki rumah, sudah cukup buat anak istrinya, tetapi tatkala istrinya melihat rumah tetangganya yang lebih luas & lebih mewah, maka dia tuntut suaminya untuk membangun rumah seperti itu.

Akhirnya apa?

Diapun membangun rumah yang sebenarnya dia tidak butuh; sangat luas dan bertingkat-tingkat.

Kalau memang dibutuhkan tentu tidak jadi masalah.

Seseorang butuh mobil lebih banyak tentu tidak jadi masalah jika memang anaknya banyak.

Seseorang mungkin memang butuh rumah lebih mewah mungkin karena anaknya lebih banyak, istrinya mungkin tambah, tidak jadi masalah.

Akan tetapi jika anaknya sedikit, istrinya cuma satu kemudian punya rumah sampai bertingkat-tingkat…

Kenapa?

Karena ada ketidakpuasan.

Akhirnya waktunya habis untuk membangun rumah yang mewah.

Yang seharusnya ada waktu untuk membaca Al Qurān, shalat malam, silahturahmi, (waktunya) semua habis karena harus bangun rumah, waktu yang tersita sangat banyak, belum lagi memikirkan hutang yang harus dia tanggung.

Demikian juga, jika misalnya sudah punya mobil yang bagus & nyaman dan bukan mobil yang rusak, kalau rusak memang harus diganti.

Namun gara-gara melihat tetangga atau teman yang mobilnya lebih mewah, maka dia membeli lagi mobil yang mewah (mahal), buat apa?

Inilah yang melalaikan manusia…

Sungguh, sikap berlomba-lomba (dalam urusan dunia) akan melalaikan kalian dan kalian tidak akan berhenti dari hal ini (kecuali) sampai kalian masuk ke dalam liang lahat (QS At Takātsur 1-2)

Oleh karenanya, dalam masalah dunia kita qãna’ah agar kita menjadi hamba yang bersyukur kepada Allãh Subhānahu wa Ta’āla, yaitu dengan melihat ke bawah.

Kalau ada harta yang berlebih maka kita gunakan untuk ibadah kepada Allãh; untuk sedekah, membantu fakir miskin, membantu dakwah.

Adapun masalah akhirat, tidak ada qana’ah.

Kalau orang sudah qana’ah dalam masalah akhirat, seakan-akan dia PD (percaya diri), maka khawatir terkena ‘ujub.

Maka janganlah qana’ah, (tetapi) kita harus semangat dan harus merasa kurang.

Karena ada sebagian orang yang qana’ah dalam masalah akhirat, (yaitu) membalikkan perkara; masalah akhirat dia qana’ah sedangkan masalah dunia tidak qana’ah.

◆ Kalau ditanya masalah akhirat, kita tegur misalnya:

“Wahai Fulan, mengapa engkau di bulan Ramadhān hanya membaca 2 halaman Al Qur’ān dalam satu hari?”

Dia mengatakan:

“Saya masih mending Ustadz, ada orang yang tidak baca Al Qur’ān sama sekali.”

Dia qãna’ah dengan 2 halaman.

◆ Ada mungkin orang yang bermaksiat, kemudian ditegur:

“Kenapa anda tidak shalat kecuali hari Jum’at saja seminggu sekali?”

Dia bilang:

“Saya masih mending Ustadz, ada orang cuma setahun sekali shalatnya, yaitu shalat ‘Īd.”

Ini tidak benar, ini sama saja.

Engkau tidak shalat kecuali hari jumat, ini adalah bahaya. Bisa terancam neraka, meskipun yang di sana mungkin nerakanya lebih parah.

Oleh karenanya, untuk masalah akhirat, berlomba-lombalah.

Karenanya dalam satu ayat, tatkala Allãh berfirman tentang perkataan salah seorang di akhirat, kata orang tersebut:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Seandainya saya dulu beramal di dunia untuk kehidupanku di akhirat.” (Al Fajr: 24)

Perkataan ini diucapkan oleh orang kafir yang mereka dulu tidak beriman di dunia, (dan) di ucapkan oleh para pelaku maksiat yang menyesal kenapa dulu bermaksiat di dunia.

Dan banyak ahli tafsir menyebutkan bahwa perkara ini juga diucapkan oleh orang yang beriman.

Tatkala di akhirat dia menyesal, kenapa?

Padahal dia sudah beriman, sudah beramal shalih, sudah shalat malam, baca Al-Qurān, bersedekah, tetapi dia menyesal.

Kenapa?

Karena dahulu kurang;

• Sedekahnya.
• Baktinya terhadap orang tuanya (ibunya), masih sedikit memberi kepada orang tuanya.
• Baca Al Qur’ānnya
• Shalat malamnya

Dia menyesal.

Oleh karenanya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla,

Ini nasehat yang saya tujukan kepada diri saya secara khusus dan juga kepada anda sekalian…

Hendaknya kita bersemangat dalam beribadah, berlomba-lomba, saling cepat-cepatan, saling kejar-mengejar.

Karena waktu kita tidak lama, kita akan meninggal dunia.

Setelah itu kita akan meraih hasil dari apa yang kita tanam selama di dunia.

وفقكم الله
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
____________________________
🌐 http://www.bimbinganislam.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s