ANCAMAN BAGI ORANG YANG MEREMEHKAN DAN LALAI SHOLAT LIMA WAKTU


ancamanDitulis oleh:

Ustadz Ahmad Zainuddin Hafidzahullah

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Ketika shalat lima waktu sudah tidak dianggap sebagai salah satu amalan yang paling utama.

Ketika shalat lima waktu sudah tidak dianggap sebagai pembeda identitas antara seorang muslim dengan seorang kafir.

Ketika shalat lima waktu sudah banyak yang meremehkan bahkan meninggalkannya!

Semoga tulisan di bawah ini bermanfaat terkhusus bagi penulis dan saudaranya seiman…agar senantiasa mendirikan shalat sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta’ala.

Semoga setelah membaca beberapa ancaman hukuman bagi yang meremehkan shalat di bawah ini, penulis dan saudaranya seiman tidak akan pernah meremehkan shalat selama hayat masih dikandung badan. Allahumma amin.

1. Disiksa di dalam kubur dengan dilempari batu kepalanya dan dia dalam keadaan terbaring, ini terjadi sampai hari kiamat dibangkitkan.

عن سَمُرَة بْن جُنْدَبٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ « هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا » . قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ « إِنَّهُ أَتَانِى اللَّيْلَةَ آتِيَانِ ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِى ، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِى انْطَلِقْ . وَإِنِّى انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا ، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ ، فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا ، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ….(في حديث طويل)

قَالَ قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّى قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا ، فَمَا هَذَا الَّذِى رَأَيْتُ قَالَ قَالاَ لِى أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ ». رواه البخاري

Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa bertanya kepada para shahabatnya: “Adakah dari kalian yang bermimpi?”, maka akan ada yang menceritakan mimpinya siapa yang dikehendaki Allah Ta’ala untuk bercerita, lalu pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita: “Sesungguhnya tadi malam telah datang kepadaku dua orang, mereka berdua mengajakku pergi, mereka berdua berkata kepadaku: “Mari ikut”, lalu aku pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang yang rebahan terlentang dan seorang yang lain berdiri di hadapannya sambil memegang batu besar dan ternyata ia melemparkan batu ke kepala orang yang rebahan terlentang tadi, maka kepalanya pecah dan batu tergelinding ke sana kemari, lalu ia (yang melempar tadi) mengikuti batu tersebut dan mengambilnya, maka ia (yang melempar tadi) tidak kembali kepadanya (yang rebahan tadi) sampai kepalanya kembali seperti semula, kemudian barulah ia (yang melempar tadi) kembali kepadanya (yang rebahan tadi), dan melakukan seperti apa yang ia lakukan pertama kali, lalu aku berkata kepada keduanya: “Maha Suci Allah, ada apa dengan dua orang tersebut?”, (lalu setelah itu di dalam hadits yang panjang ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan siksa beragam bentuknya dan pada akhirnya beliau bertanya-pent), “Aku bertanya kepada keduanya: “Sungguh malam ini aku telah melihat kejadian-kejadian yang mengherankan, apakah gerangan yang aku lihat ini?”, mereka berdua menjawab: “Kami akan benar-benar memberitahumu, adapun orang pertama yang kamu datangi dalam keadaan kepalanya dipecahkan dengan batu, sesungguhnya ia adalah seorang yang dulunya sibuk dengan Al Quran lalu ia tinggalkan dan seorang yang meninggalkan shalat wajib.” HR. Bukhari

Sungguh sangat menyakitkan bukan…?

Kepala dilempari batu dan kita dalam keadaan rebahan terlentang, sulit untuk mengelak dan jika terkena lemparan tersebut, maka akan terasa sangat menyakitkan…na’udzubillah.

2. Di akhirat mendapatkan siksa “Al Wail”

{فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)} [الماعون: 4، 5]

Artinya: “Maka wail bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” QS. Al Ma’un: 4-5.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan kata “Al Wail”:

والويل: الهلاك والدمار، وهي كلمة مشهورة في اللغة. وقال سفيان الثوري، عن زياد بن فياض: سمعت أبا عياض يقول: ويل: صديد في أصل جهنم.

وقال عطاء بن يسار. الويل: واد في جهنم لو سيرت فيه الجبال لماعت.

وعن ابن عباس: الويل: السعير من العذاب، وقال الخليل بن أحمد: الويل: شدة الشر، وقال سيبويه: ويل: لمن وقع في الهلكة، وويح لمن أشرف عليها،

Artinya: “Al Wail artinya adalah kehancuran dan kebinasaan, ia adalah kata dikenal di dalam bahasa Arab.

Sufyan Ats Tsaury meriwayatkan dari Ziyad bin Fayyadh, bahwa ia telah mendengar Abu Fayyadh rahimahullah berkata: “Wail adalah nanahnya di dasar Jahannam.”

Atha’ bin Yasar rahimahullah berkata: “Al Wail adalah lembah di dalam neraka Jahannam, jika di jalankan di dalamnya gunung-gunung maka gunung-gunung tersebut akan meleleh.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Al Wail adalah siksa berupa api yang menyala-nyala.”

Al Khalil bin Ahmad rahimahullah berkata: “Al Wail Keburukan yang sangat buruk.”

Sibawaih berkata: “Wail diperuntukkan bagi orang yang dalam kebinasaan dan waih diperuntukkan bagi orang yang hampir dalam kebinasaan.” Lihat tafsir Al Quran Al Azhim, QS. Al Baqarah: 79.

Saudaraku seiman…

Hanya orang-orang yang benar-benar tidak berperasaan ketika membaca buruknya Al Wail, lalu dia tidak terjetuk hatinya untuk tidak pernah meremehkan shalat lima waktu. Wallahul musta’an.

3. Di akhirat tidak mampu sujud ketika seluruh kaum beriman sujud

{يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43 ) [القلم: 42 – 43]

Artinya: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa”, “(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sehat.” QS. Al Qalam: 42-43.

Maksud dari ayat di atas dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ – رضى الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ ، وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ فِى الدُّنْيَا رِئَاءً وَسُمْعَةً ، فَيَذْهَبُ لِيَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ طَبَقًا وَاحِدًا » .

Artinya: “Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita menyingkapkan betis-Nya maka sujud kepada-Nya setiap lelaki dan wanita beriman, sedangkan yang di dunianya sujud karena riya’ dan sum’ah ketika ia ingin sujud maka kembali punggungnya satu bagian.” HR. Bukhari.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang tidak mampu sujud di kehidupan akhirat:

وقوله: { خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ } أي: في الدار الآخرة بإجرامهم وتكبرهم في الدنيا، فعوقبوا بنقيض ما كانوا عليه. ولما دعوا إلى السجود في الدنيا فامتنعوا منه مع صحتهم وسلامتهم كذلك عوقبوا بعدم قدرتهم عليه في الآخرة، إذا تجلى الرب، عز وجل، فيسجد له المؤمنون، لا يستطيع أحد من الكافرين ولا المنافقين أن يسجُد، بل يعود ظهر أحدهم طبقًا واحدًا، كلما أراد أحدهم أن يسجد خَرّ لقفاه، عكس السجود، كما كانوا في الدنيا، بخلاف ما عليه المؤمنون.

Artinya: Firman Allah: “(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan.” Maksudnya adalah di dalam kehidupan akhirat, sebab dosa dan kesombongan mereka ketika di dunia, maka mereka akan disiksa dengan kebalikan apa yang mereka kerjakan, ketika mereka dipanggil untuk sujud di dunia maka mereka enggan darinya padahal mereka sehat dan selamat, maka demikian pula mereka akan di siksa dengan ketidak mampuan mereka untuk sujud di akhirat, ketika Rabb Azza wa Jalla memperlihatkan diri maka seluruh kaum beriman sujud, tidak mampu seorangpun dari orang-orang kafir dan munafik untuk sujud, akan tetapi setiap punggung mereka ingin sujud, maka punggung mereka kembali menjadi satu bagian, setiap kali salah seorang dari mereka ingin sujud maka kembali ke lehernya, kebalikannya dari sujud, sebagaimana ketika mereka di dunia, berbeda keadaanya dengan kaum beriman.” Lihat kitab tafsir Al Quran Al Azhim dalam QS. Al Qalam: 42-43.

4. Akan merasakan siksa di neraka Saqar

{كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (38) إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (39) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (40) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) } [المدثر: 38 – 44]

Artinya: ”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”, “Kecuali golongan kanan”, “Berada di dalam surga, mereka tanya menanya”, “Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa”, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”, “Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat.” QS. Al Muddatstsir: 38-44.

{سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) } [المدثر: 26 – 30]

Artinya: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar”. “Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?”, “Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan”. “(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia”. “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” QS. Al Mudatstsir: 26-30.

Saudaraku seiman…

Mari perhatikan bagaimana dahsyatnya siksa neraka Saqar, semoga kita dijauhkan darinya:

{ لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ }

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsiran para ulama terdahulu:

{ لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ } أي: تأكل لحومهم وعروقهم وعَصَبهم وجلودهم، ثم تبدل غير ذلك، وهم في ذلك لا يموتون ولا يحيون، قاله ابن بريدة وأبو سنان وغيرهما.

Artinya: “Yaitu memakan daging-daging, urat-urat, otot-otot dan kulit-kulit mereka, kemudian digantikan dengan yang lainnya, dan mereka dalam keadaan itu tidak mati dan juga tidak hidup.” ini pendapatnya Ibnu Buraidah, Abu Sinan dan selain keduanya.

{ لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ }

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tafsiran ayat di atas:

{ لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ } قال مجاهد: أي للجلد، وقال أبو رَزين: تلفح الجلد لفحة فتدعه أسود من الليل. وقال زيد بن أسلم: تلوح أجسادهم عليها. وقال قتادة: { لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ } أي: حراقة للجلد. وقال ابن عباس: تحرق بشرة الإنسان.

Mujahid rahimahullah berkata: “Yaitu menghitamkan kulit.”

Abu Razin berkata: “Saqar itu akan menghitamkan kulit sehitam-hitamnya kemudian membiarkannya lebih hitam daripada gelap malam.”

Zaid bin Aslam berkata: “Saqar akan membakar jasad-jasad mereka.”

Qatadah rahimahullah berkata: “Saqar adalah pembakar kulit.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saqar akan membakar kulit manusia.” Tafsir Al Quran Al Azhim, QS. Al Mudatstsir, pada ayat: 26-30.

5. Diakhirat Mendapat Siksa berupa “Ghayy”

{فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (} [مريم: 59]

Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat danmemperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Ghayy.” QS. Maryam: 59.

Saudaraku Seiman…

Hati mana yang tidak takut setelah membaca tafsiran ghayy berikut:

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan beberapa tafsiran dari ulam terdahulu:

وقوله: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } أي: خسرانا. وقال قتادة: شرًّا.

وقال سفيان الثوري، وشعبة، ومحمد بن إسحاق، عن أبي إسحاق السَّبيعي، عن أبي عبيدة، عن عبد الله بن مسعود: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } قال: واد في جهنم، بعيد القعر، خبيث الطعم.

وقال الأعمش، عن زياد، عن أبي عياض في قوله: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } قال: واد في جهنم من قيح ودم. قال: قلت: وما غي وآثام؟ قال: “بئران في أسفل جهنم، يسيل فيهما صديد أهل النار

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ghayy adalah kerugian”

Qatadah rahimahullah berkata: “Ghayy adalah keburukan”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam sangat dalam dan baunya sangat busuk.”

Abu ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Lembah di dalam neraka Jahannam berasal dari muntah dan darah.” Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim, pada ayat QS. Maryam: 59

Saudaraku seiman…sungguh siksa yang sangat mengerikan dan memuakkan. na’udzubillah…

Terakhir…

saudaraku seiman…

jangan lupa selalu berdoa kepada Allah Ta’ala agar senantiasa menjadi seorang muslim yang mendirikan shalat.

{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ} [إبراهيم: 40]

Artinya: “Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” QS. Ibrahim: 40.

*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s