AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK BAGI MEREKA YANG BERTAKWA


AL QURAN

Al Qur’an Sebagai Petunjuk Bagi Orang-orang yang …. BerTAKWA
………………………………………
”Alif Laam Miim. Dzalikal kitaabu la raiibafiihi hudalil muttaqiin. Alladzina yu’minuuna bil ghoiibi wa yuqiimunashshalaata wa mimma razaqnaahum yunfiquun”.

Ayat 1 sudah kita jelaskan tentang alif laam miim, yang merupakan potongan huruf-huruf yang terletak diawal surat yang tentunya para ahli tafsir menyatakan bahwa Allah lebih mengetahui maknanya, walaupun para ulama ahli mutafsirin mencoba memahaminya dari apa yang tersirat dari potongan huruf-huruf hija’iyah pada awal surat yang merupakan suatu penegasan kepada orang-orang Arab jahiliyah khususnya pada waktu itu bahwa Al Quranul Karim diturunkan dalam bahasa Arab tersusun dari rangkai huruf-huruf hija’iyah yang juga merupakan bahasa mereka. Kemudian Al Quran menantang mereka andaikata benar tuduhan kalian Al Quran ini adalah buatan Muhammad saw maka ciptakanlah satu, sepuluh atau lebih dari itu surat jika kamu orang-orang yang benar. Dan pada kenyatannya sampai hari ini tak ada seorangpun sastrawan Arab yang mampu untuk menggubah satu saja surat pendek semisal surat Al Kautsar atau surat-surat pendek lainnya seperti surat Al Fil.

Kemudian pada ayat yang ke 2 kita telah jelaskan tentang keyakinan kita sebagai seorang mukmin, sebagai seorang muslim bahwa Al Quranul karim adalah Kalamullah yang sekali-kali tidak boleh diragukan kebenarannya. Inilah kitab Al Qur’an yang tidak diragukan lagi kebenarannya sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Kemudian kita jelaskan tentang apa itu hidayah. Dan kita telah bahas sebagaimana dikemukakan para ulama bahwa semua manusia yang lahir di dunia ini sudah diberikan hidayah yaitu hidayah khalqiyah (penciptaan) yakni dilengkapi dalam dirinya panca indera, akal bahkan iman yang suci sebagai hidayah yang pertama. Sehingga tak seorangpun manusia di dunia yang menyatakan dia belum memperoleh hidayah dari Allah hidayah penciptaan.

Kemudian hidayah yang kedua yang disebut petunjuk, bimbingan yang datang dari Allah swt berupa diutusnya Rasul-rasul Allah, dilengkapi mereka dengan kitab-kitab untuk membimbing, menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus sehingga hari inipun mestinya tidak ada seorangpun menyatakan bahwa dirinya belum mendapat bimbingan karenanya Rasul-rasul seluruhnya sudah diutus dan Nabi kita Muhammad saw adalah khataman nabiyyin, nabi akhir dari segala Nabi-nabi, dia datang membawa Islam lengkap ajarannya. Sebagai manusiapun dia dipanggil oleh Allah swt meninggal dunia. Tapi Al Qur’an sebagai mukjizat yang terbesar yang dimiliki oleh Rasulullah saw berlaku sampai akhir zaman, sampai hari kiamat.

Hidayah yang kedua sudah ada, walaupun manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu yang mau menerima hidayah berupa Al Qur’an yang disebut orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak mau menerimanya yang disebut sebagai orang-orang kafir. Dari sini hidayah berupa Al Qur’an petunjuk tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang bertakwa, walau pada ayat 2 ini dikatakan Al Qur’an adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, walaupun ada orang atau manusia yang ingkar kepada-Nya, kufur kepada-Nya, tidak mau tunduk kepada aturan-aturan-Nya dalam kehidupan ini Allah masih juga memberikan hidayah kepadanya, hidayah yang kedua ini yang dalam surat Al Baqarah ayat 185 disebutkan :

“Syahru ramadhaanalladzii unzilafiihil quraanu hudallinaasi wa bayyinaatimminal hudaa wal furqan”

Allah menginginkan Al Qur’an ini diturunkan dalam bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi manusia, jadi tidak dibatasi kepada orang-orang yang bertakwa saja, orang-orang yang beriman saja tapi petunjuk bagi semua manusia. Al Qur’an adalah pembeda antara yang hak dan yang bathil. Lalu kita jelaskan hidayah yang ketiga. Hidayah yang ketiga adalah at-taufiq. Hidayah ini tidak seperti yang pertama dan yang kedua. Hidayah yang ketiga adalah sejauh mana kita mau berupaya untuk menyesuaikan diri kita dengan kemauan Allah swt. Allah sudah memberikan kita akal, pancaindera. Allah sudah menunjukkan kepada kita Al Qur’an. Al Qur’an berikan petunjuk ini jalan-Ku yang lurus, ikutilah, jangan kamu ikuti jalan yang lain. Nah kita tentu setelah diberikan pilihan mau ikut jalan yang mana, mau ikut jalan yang lurus selamat sampai ke tujuan atau mau mencari jalan yang menyimpang. Mestinya manusia yang berakal akan mengikuti jalan yang lurus. Tapi itulah hidup di dunia ini adalah ujian, manusia diuji. Dalam pilihan-pilihan itu pasti dihadapkan pada ujian, godaan. Nah disinilah ketika manusia lulus dari ujian dan mengikuti jalan Allah disanalah dia mendapatkan hidayah yang ketiga yaitu taufiq.

Itulah sekedar untuk mengulangi, mengingatkan apa yang telah kita bahas pada pertemuan yang lalu, tentang Al Qur’an sebagai hidayah bagi orang-orang yang bertakwa.

Karena itu pada kesempatan kali ini kita memasuki ayat yang ke 3. Awal ayat yang ketiga adalah “Alladzina yu’minuuna bil ghoiibi”yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghoib. Nah kalimat ini menjelaskan sifat orang-orang yang bertakwa. Bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, siapakah orang-orang yang bertakwa itu, yaitu “ Alladzina yu’minuuna bil ghoiibi” yang dalam tafsir Al Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al Manan karangan Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dia menjelaskan makna ayat ini yang pertama disebutkan iman itu apa, hakikat dari pada iman membenarkan dengan sesungguhnya, meyakini dengan sesungguh-sungguhnya (sempurna) kepada apa yang diperintahkan kepada Rasul-rasul yang mengandung kepasrahan manusia untuk menerima berita-berita yang telah disampaikan oelh Rasul-rasul itu. Karena itu Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindera kita tidak mesti kita dituntut untuk mengimani lagi. Bahwa ini adalah buku tidak perlu dicari dalil untuk membenarkan apa ini buku atau bukan karena ini adalah sesuatu yang dapat kita lihat, kita raba, kita pegang. Yang dituntut disini adalah sesuatu yang ghoib yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindera kita. Karena hal-hal seperti ini tidak sedikitpun membedakan antara mana yang beriman dan mana yang kafir, semuanya sama-sama melihat dengan mata kepala tidak dapat dibantah walaupun kadang-kadang mata bisa salah, tapi kalau banyak orang menyaksikan tentu tidak akan salah. Atau ketika mata salah maka akal akan menentukan lain. Sesuatu yang dapat dilihat pancaindera kita seperti saat mata melihat lidi dalam air di gelas kelihatannya bengkok tapi akal menyatakan lidi itu tidak bengkok walaupun mata melihat sedikit salah.

Jadi yang dimaksudkan iman kepada hal-hal yang ghoib bukanlah yang dapat ditangkap pancaindera . Yang ghoib adalah yang kita tidak melihat, kita tidak menyaksikan tapi kita dituntut untuk meyakini itu karena ini diberitahukan oleh Allah swt kepada kita dan kabar yang disampaikan oleh Rasul kita Muhammad saw sekalipun akal kita, nalar kita tidak bisa menerima itu. Sekalipun kita tak dapat melihat dengan mata kepala kita, tidak bisa mendengar tetapi ketika itu berita yang datang dari Allah dan Rasul kita yakini.

Itu yang disebut dengan iman kepada hal-hal yang ghoib. Iman kepada hal-hal yang ghoib inilah yang membedakan antara seorang yang mukmin dengan seorang yang kafir. Karena itu merupakan suatu keyakinan yang semata-mata karena diberitakan, disampaikan oleh Allah dan Rasulnya baik melalui Al Quranul Karim maupun melalui sunnah Rasulullah atau hadits-hadits Rasulullah saw. Maka setiap mukmin, setiap muslim meyakini segala apa yang Allah beritakan atau yang diberitakan oleh Rasulnya Muhammad saw. Berita itu sampai kepada kita apakah kita dapat menyaksikan dengan mata kepala kita maupun yang tidak dapat kita saksikan. Apakah dia paham atau tak bisa dipahami atau akalnya kemampuannya belum sampai kepada yang diberitakan itu tapi dia dengan segala keyakinannya sami’na wa ato’na, kami dengar itu dan kami taati.

Berbeda dengan orang-orang kafir, orang-orang yang mendustakan Allah terhadap hal-hal yang bersifat ghoib ia tidak mau menerima atau meyakini itu. Karena hal-hal ghoib yang diberitakan Allah ini akal manusia terbatas. Karena semuanya diukur dengan akal atau dengan alat maka ketika semua belum dipahami, belum sampai kepada akalnya dia tolak dan mengatakan tidak ada, tidak ada itu berita seperti ini. Dan mereka mendustakan dan menolak sesuatu yang belum sampai kepada ilmu mereka. Disinilah terlihat akal mereka jadi rusak dan selalu inspirasi atau mimpi mereka menjadi mimpi kosong, sedangkan akal orang-orang beriman menjadi bersih bahkan menjadi jernih ketika dia menerima berita-berita dari Al Qur’an, dari Allah dan dari hadits-hadits Rasulullah saw dengan sebuah keyakinan bahwa ini adalah benar walaupun akal mereka belum menjangkau makna dibalik itu.

Dan termasuk dalam iman kepada hal-hal yang ghoib disini adalah semua kabar, berita yang disampaikan oleh Allah dalam Al Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah tentang hal-hal ghoib baik yang masa lalu maupun yang akan datang begitu juga berkenaan dengan keadaan hari akhirat. Begitu juga dengan hakikat Allah, Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat maupun sifat-sifat Allah yang Rahman yang Rahim, apa yang diberitakan oleh Allah swt baik yang telah lalu maupun yang akan datang termasuk dalam iman kepada yang ghoib. Maupun kabar yang disampaikan oleh Rasulullah baik yang terjadi sebelumnya maupun yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka juga beriman kepada sifat-sifat dan wujud Allah, dan mereka meyakininya sekalipun mereka tidak memahami seperti Allah berfirman atau dalam kata lain titah Allah, perintah Allah.

Tentu timbul dalam pikiran kita atau hati kita pertanyaan-pertanyaan bagaimana Allah berkata, bagaimana Allah berfirman tapi orang-orang beriman tidak sampai kesana karena hal-hal yang menyangkut masalah ghoibiyah. Jangankan hal-hal yang ghoib, bahkan hal-hal yang dapat dilihat dengan mata kepalapun masih banyak yang belum tersingkap oleh ilmu pengetahuan apalagi yang ghoib, apalagi yang ghoib adalah Maha yaitu Allah swt. Disinilah bedanya antara orang-orang beriman kepada yang ghoib dengan orang-orang yang tidak mengimaninya. Merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertakwa yang pertama adalah mereka yang beriman kepada hal-hal yang ghoib.

Menambahkan penjelasan mengenai definisi takwa menurut Sayidina Ali bin Abu Thalib. Definisi umum tentang takwa kita semua sudah tahu, yaitu memenuhi semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, itulah definisi yang umum. Takwa artinya berupaya untuk melaksanakan perintah-perintah Allah semaksimal mungkin dan berusaha untuk menjauhkan diri dari segala larangan Allah semaksimal mungkin. Takwa ini memang bertingkat-tingkat, ada yang rendah ada yang tinggi, ada yang paling tinggi dan manusia yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling takwa. Surat Al Hujurat menjelaskan kepada kita bahwa Sayidina Ali bin Abu Thalib mengungkapkan bahwa takwa itu adalah rasa takut kepada Allah swt., takut meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah dan takut melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah, itu yang pertama.

Yang kedua mengamalkan Al Qur’an. Takut lalai akan kewajiban-kewajiban tentu berusaha untuk beramal berbuat sebanyak-banyaknya tidak pandang mana yang wajib mana yang sunnah. Yang wajib tentunya akan ia penuhi karena konsekwensinya berdosa. Walaupun yang sunnah tidak ada sanksi namun mereka berlomba-lomba melakukannya, bahkan yang mubah sekalipun ada upaya untuk menghindari jangan sampai terlalu jauh masuk pada hal-hal yang mubah kawatir melakukan sesuatu yang membawa mudharat.

Yang ketiga lalu ada rasa qanaah, rasa cukup dalam diri walaupun dalam diri manusia selalu ada rasa tidak puas. Rasul mengatakan ada dua hal yang manusia tidak pernah puas yaitu dalam hal ilmu dan harta. Bila seseorang memiliki emas dua lembar maka dia ingin memiliki yang ketiga. Tapi menyerah dalam kemiskinan jangan diartikan qanaah tapi orang yang putus asa, yang dalam Al Qur’an dikatakan bahwa orang-orang yang putus asa itu adalah orang-orang kafir. Sedang orang yang berupaya agar berkemampuan untuk beribadah seperti umrah atau naik haji dengan berupaya menambah hartanya dengan tidak melanggar aturan-aturan Allah swt bukan termasuk orang yang tidak pernah puas dengan harta.

Jadi berbeda antara qanaah dengan pasrah. Orang yang tidak membedakan antara yang halal dengan yang haram tidak termasuk qanaah. Lalu ada kesiapan kepada Ar Rahim, maksudnya kesiapan kita menghadapi kematian. Itu yang dikemukakan oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib, ada empat hal untuk menjadikan kita orang-orang bertakwa.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa takwa itu ada kekawatiran untuk melakukan sesuatu walaupun ini masalahnya mubah saja tapi disana ada kekawatiran melakukan sesuatu yang bisa membawa mudharat. Jadi ada rasa takut kepada Allah swt. akan hukuman-Nya, azab-Nya, takut di hari kiamat nanti dihadapkan oleh Allah di hari tidak ada pertolongan, hari dimana harta benda, anak buah dan cucu tak dapat menolong kita kecuali mereka yang datang dengan amal-amal soleh yang pernah dia lakukan di dunia.

Tidak cukup dengan mengamalkan Al Qur’an tapi juga mengamalkan hadits-hadist Rasulullah karena ada juga orang yang mengamalkan Al Qur’an tapi menolak hadits-hadits Rasulullah yang dikenal dengan inkarussunah. Karena jika kita mengingkari sunnah Rasulullah berarti kita mengingkari shalat karena shalat kita tidak seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah padahal Rasulullah memerintahkan kita shalat sebagaimana ia lakukan shalat. Kalau ada seorang muslim shalatnya tidak dilakukan seperti Rasulullah shalat seperti diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam itu pertanda bahwa ia adalah inkarussunah.

Takwa sendiri secara bahasa artinya menjaga, jadi ketakwaan yang ada pada diri kita membuat kita terjaga dari perbuatan-perbuatan yang jauh dari petunjuk Allah .
Wallahu a’lam bishshawab. .. berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s