MIMBAR DAKWAH DULU DAN SEKARANG


12299374_1700369813582963_3895011029243776330_n
Oleh :
Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى

Dahulu… Mimbar dakwah adalah tempat yang sangat terhormat. Ia hanya boleh diisi oleh orang-orang yang berilmu.

Diatasnya curahan ilmu dan hikmah mengucur deras ke hati para pendengar.

Adab yang terpancar dari seorang ulama/da’i menjadi daya tarik tersendiri bagi para jamaah.
Sehingga mereka yang datang tidak hanya pulang membawa ilmu, tapi juga membawa pancaran adab sang guru.

Contoh kongkritnya adalah majelis Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-.
Diantara puluhan ribu jamaah yang hadir, hanya 500 orang yang menulis, sisanya memperhatikan bagaimana adab seorang Imam Ahmad.

Adapun saat ini….?
Sebagian mimbar dakwah berubah menjadi panggung hiburan yang lebih sering diisi oleh para pelawak berbaju Ustadz. Sedikit ilmu, kering adab.
Hasilnya adalah banjir idola dan miskin teladan.
Jamaah yang semestinya pulang membawa ilmu, justru kembali dengan kejahilan dan hati yang keras.

Kami tidak mengatakan bahwa canda dan gurauan itu haram bagi seorang da’i.
Tapi ia ibarat garam bagi makanan, bila berlebihan maka akan merusaknya.
Kecuali canda dan gurauan yang bercampur dusta. Hukumnya haram secara mutlak.

Imam Ibnu Sirin pernah berpesan: “Ilmu adalah agama, maka perhatikan dari siapa engkau mengambil agamamu”
_______

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s