JANGAN BIARKAN ITU TERJADI


BI
MUHASABAH (MENGHISAB DIRI) ….. sebelum diHISAB Allah
……………………..perSIAPkan BEKAL untuk MATIMU … SEGERAlah
………..apakah KAMU sudah mengira CUKUP amalmu ? … mengira SUDAH CUKUP IBADAHmu ?? .. sudah mengira akan ke SURGA ?
……….bercerminlah … lihat AMALmu {kita} sendiri .. lihat HATImu sendiri…
…………………
Baginda Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“Orang yang paling bijak adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian…” [HR Imam Tarmizi; Hadis Hasan]

Dikatakan bahawa maksud “orang yang mengendalikan hawa nafsunya” (man dana nafsahu) dalam hadis di atas adalah orang yang selalu menghisab dirinya di dunia sebelum dirinya dihisab oleh ALLAH pada Hari Kiamat. Berkenaan dengan hadis ini, Khalifah Umar Al-Khattab RA pernah berkata,

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh ALLAH SWT kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.” [Lihat Al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi].

Muhasabah (Menghisab diri) sebagai satu pesan ini dari hadis Rasulullah SAW di atas, sangatlah penting dilakukan oleh setiap muslim. Dengan sering melakukan muhasabah, ia akan mengetahui berbagai kelemahan, kekurangan, dosa dan kesalahan yang dilakukan. Dengan itu, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dengan itu pula, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia menjadi semakin baik. Imannya semakin kuat; ketaqwaan nya semakin kukuh; solatnya semakin khusyuk; amal solehnya semakin bertambah dan dosa-dosanya semakin berkurang kerana semakin jarang ia bermaksiat; semangat dakwahnya semakin bergelora; pengorbanannya untuk ALLAH SWT dan Rasulnya semakin besar; akhlaknya semakin terpuji- ia semakin ikhlas, semakin tawaduk, semakin wara’, semakin menjaga amanah dan semakin Taqarrub (dekat diri) kepada ALLAH SWT.

Sayangnya, kerana pelbagai kesibukan dunia, entah kerana sibuk dengan kawan-kawan, study, assignment, tesis, bekerja mencari nafkah untuk keluarga, seseorang muslim tidak sempat ber-muhasabah; masanya banyak terbuang dengan pelbagai aktiviti harian yang dilakukan. Ada juga yang jarang ber-muhasabah bukan kerana sibuk, tetapi kerana memang ia lalai. Ia sendiri memang lalai melakukan muhasabah.

Sudah tentu, jarangnya seseorang muslim melakukan muhasabah merupakan musibah (perkara yang buruk berlaku ke atas diri manusia). Betapa tidaknya, jarangnya melakukan muhasabah (menghisab diri), seseorang Muslim sering marasakan tidak ada kurang pada dirinya; ia merasakan dirinya baik-baik saja. Padahal boleh jadi, imannya semakin rapuh, ketaqwaannya semakin terkikis, solatnya tidak lagi khusyuk, amal solehnya sudah jauh berkurangan, dosa-dosanya semakin bertambah, semangatnya untuk menyebarkan Islam ke tengah-tengah umat hampir-hampir padam, pengorbanannya untuk ALLAH SWT dan Rasulnya semakin menipis, akhlaknya semakin jauh dengan akhlak islam- mulai sering muncul ketidak-ikhlasan, ketidak-warak-an, ketidak-amanah-an dan semakin jauh dari ALLAH SWT.

Namun, musibah ini sering tidak disedari kerana kepekaan spiritual memang telah hilang dari dirinya akibat jarangnya ia melakukan muhasabah (menghisab diri). Akibat lebih jauh lagi, ia sering merasa tidak berdosa atau bersalah saat solatnya lalai dan tidak khusyuk, saat amal solehnya berkurangan, saat belajar agamanya jarang-jarang, saat melalaikan amanah ALLAH dalam menyebarkan islam; dan sering merasa tidak bersalah di saat melakukan banyak dosa; seperti sering melihat hal-hal yang haram, mendengar hal-hal yang sia-sia, melakukan hal-hal yang syubhat dan lain-lain. Ia pun tidak lagi merasa menyesal saat meninggalkan solat berjemaah; saat jarang melakukan solat malam; saat solat subuhnya suka terlambat, saat tidak mampu lagi berpuasa sunat, saat jarang membaca Al-Quran, saat tidak lagi boleh menangis ketka berdoa dan lain-lain. Tentu, semua ini sekali lagi dikatakan kerana jarangnya ia melakukan muhasabah.

Kita nampaknya perlu merenung kembali teladan Baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabat Baginda yang mulia (Radhiallahu anhu). Baginda Nabi Muhammad SAW, misalnya pernah semalaman tidak dapat tidur kerana khuatir memikirkan sebutir kurma- (hanya sebutir kurma!)- yang terlanjur Baginda SAW makan di suatu tempat. Pasalnya, kemudian Baginda SAW berfikir bahawa kurma itu mungkin sebahagian daripada kurma sedekah yang disediakan untuk fakir miskin. Itulah yang menjadi beban fikiran Baginda Rasullah SAW semalaman.

Khalifah Abu Bakar As-Siddiq RA pernah memuntahkan kembali makanan, yang baru kemudian beliau ketahui bahawa makanan itu ternyata merupakan permberian dari tukang tilik. Saat itu Abu Bakar RA ditanya, mengapa melakukan demikian?, beliau menjawab, “Seandainya untuk memuntahkan makanan itu aku terpaksa menebusnya dengan nyawaku, aku pasti akan melakukannya. Sebab aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“BADAN YANG TUMBUH DENGAN MAKANAN YANG HARAM, MAKA API NERAKA LEBIH BAIK BAGINYA”, Aku sangat khuatir dengan itu”. (Kanz al-‘Umal).

Hal yang sama dilakukan oleh Khalifah Umar Al-Khattab RA. Beliau pernah memuntahkan kembali susu yang beliau minum, kerana baru kemudian baliau mengerahui bahawa ternyata air susu itu berasal dari unta sedekah. Seketika beliau memasukkan jari ke mulutnya dan memuntahkan kembali air susu itu (Rujuk Imam Malik, dalam kitabnya Al-Muwaththa’).
Diriwayatkan pula, pada zaman Khalifah Uthman bin Affan RA, seorang Ansar sedang solat ditengah-tengah kebunnya. Lalu pandangannya tertuju pada buah-buahan masak ranum yang bergantungan di dahan-dahan pepohonan. Selesai solat, ia merasakan sangat menyesal. Ia lalu segera mewakafkan kebun miliknya itu demi “menebus” kesalahannya (Rujuk Imam Malik, dalam kitabnya Al-Muwaththa’).

Secebis kisah diatas – yang benar-benar nyata- mungkin bagi kita semacam kisah para Rasul, kisah “manusia langit”, kisah “manusia yang dijamin syurga” yang sepertinya mustahil untuk kita teladani. Pernyataan semacam itu hanyalah menunjukkan bahawa, kita benar-benar sangat jauh dengan keteladanan Baginda Nabi SAW dan Para Sabahat RA yang dimuliakan. Mengapa kita sangat jauh dengan keteladanan Nabi SAW dan Para Sahabat RA?

Kerana mungkin- salah satunya- kita jarang melakukan muhasabah. Kalau pun kita melakukannya, mungkin itu kita lakukannya setahun sekali, saat bertukar tahun atau saat “berulang tahun”, atau saat terkena musibah barulah nak dekatkan diri dengan ALLAH, barulah nak bermuhasabah. Padahal dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu. Sudah tentu, semua dosa dan kemaksiatan itu sangat mudah kita lupakan, kerana muhasabah (menghisab diri) setahun sekali tidak mungkin boleh “detect” seluruh dosa setiap hari, apatah lagi dosa yang kita lakukan setiap waktu. Dosa setiap hari atau setiap waktu hanya akan mudah di”detect” jika kita melakukan muhasabah setiap hari atau setiap waktu. Mudah-mudahan kita semua boleh melakukannya. Semasa kita masih bernafas lagi inilah kita masih ada peluang untuk bermuhasabah untuk berbuat banyak perkara kebaikan, dan apabila nafas kita berhenti untuk selama-lamanya, peluang untuk bermuhasabah (menghisab diri) sudah tidak ada lagi. Saat itu kita pula akan dihisab oleh ALLAH SWT.

ALLAH SWT berfirman maksudnya:

“Jika kamu berbuat kebaikan, (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu (sendiri)…” [TMQ Surah Al-Isra (17): ayat 7]

Allah berfirman,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq: 1-5)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.Al-Ashr: 1 – 3)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK dan BANTAHLAH mereka dengan CARA yang TERBAIK. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl ayat 125)

“Tidak ada kepada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”(QS An-Nisa’ [14] : 114)

“….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS az-zumar (39) ayat : 9)

“….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-mujadillah (58) ayat 11)

“….Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)…”(QS fathir (35) ayat 28)

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatau kaum maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’d: 11)

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…” (QS. al-Baqarah: 25)

Nabi Muhammad SAW. bersabda,

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baiknya kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

“Yang terbaik diantara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.” (HR. Ahmad bin Hambal)

“Sebaik-baiknya manusia diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya.” (HR. Tirmidzi)

“Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.” (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

“Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah : Menuntutnya merupakan Ibadah, Mengulang-ngulangnya merupakan Tasbih, pembahasannya merupakan Jihad, Mengajarkannya kepada orang lain merupakan Shodaqoh, menyerahkan kepada ahlinya merupakan pendekatan diri kepada Allah. maka SEMPURNAKANLAH…” (HR. Ibn’ Abdil Barr)

“Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh ” (HR. Dailami dari Ali).

“Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat.” (HR. Al Baihaqi)

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.”(HR. Muslim)

“Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan dikalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barang siapa seperti itu, maka baginya neraka… neraka.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau (lebih baik) diam.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

“Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)

“Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

“Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”(HR. Muslim)

“Demi Allah, sesungguhnya berteman dengan suatu kaum yang menakut-nakutimu hingga akhirnya kamu menemukan rasa aman itu lebih baik daripada kamu berteman dengan sekelompok orang yang membuatmu merasa aman, namun akhirnya kamu di kejar-kejar oleh perkara-perkara yang menakutkan.” (Imam Ahmad, dalam Kitab Az Zuhd)

Wallahu a’lam bish-shawabi… (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s