TAKUT KEPADA ALLAH


TAKUT

TAKUTlah …. kepada-Ku (Allah SWT saja) dan SIKSA Allah
…………………….
………………… >> Takutlah kepada Allah
﴾ Al Baqarah:150 ﴿
Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan TAKUTLAH KEPADA-KU (وَٱخْشَوْنِى). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ص قَالَ: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ اِلاَّ ظِلُّهُ: َاْلاِمَامُ اْلعَادِلُ، وَ شَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ، وَ رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى اْلمَسَاجِدِ، وَ رَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللهِ وَ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَ تَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَ رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَ جَمَالٍ، فَقَالَ: اِنِّى اَخَافُ اللهَ، وَ رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَاَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ، وَ رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. البخارى و مسلم و اللفظ له. فاما لفظ البخارى: حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah dalam naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu : 1. pemimpin yang adil, 2. pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), 3. seseorang yang hatinya senantiasa bergantung pada masjid-masjid (sangat mencintainya dan selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), 4. dua orang yang saling mengasihi karena Allah (keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah), 5. seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang perempuan yang punya kedudukan lagi cantik, tetapi dia mengatakan, “Aku takut kepada Allah !”, 6. seseorang yang bersedeqah dengan merahasiakannya sehingga tangan kanannya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya, 7. dan seseorang yang ingat kepada Allah diwaktu sunyi, sehingga meleleh air mata dari kedua matanya”. [HR. Bukhari dan Muslim, dan lafadh itu baginya. Adapun pada lafadh Bukhari disebutkan : Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedeqahkan tangan kanannya]
﴾ Ali Imran:175 ﴿
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi TAKUTLAH KEPADA-KU, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
hadits
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَ عَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيْلِ اللهِ. الترمذى و قال حديث حسن غريب
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua mata yang tidak disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang bermalam berjaga di jalan Allah”. [HR. Tirmidzi, ia berkata Hadits hasan gharib].
﴾ Al Maidah:3 ﴿
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan TAKUTLAH KEPADA-KU {وَخَافُونِ}. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
hadits
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللهِ حَتَّى يَعُوْدَ اللَّبَنُ فِى الضَّرْعِ وَ لاَ يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ دُخَانُ جَهَنَّمَ. الترمذى و قال حديث حسن صحيح و النسائى و الحاكم و قال صحيح الاسناد
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah sehingga air susu kembali ke teteknya. Dan tidak akan berkumpul debu fii sabiilillah dengan asap neraka jahannam”. [HR. Tirmidzi, ia berkata : hadits hasan shahih, Nasai dan Al-Hakim, ia berkata : shahih sanadnya]
﴾ Al Maidah:44 ﴿
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) TAKUTLAH KEPADA-KU {وَٱخْشَوْنِ}. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
hadits
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ رض عَنِ النَّبِيِّ ص: لَيْسَ شَيْءٌ اَحَبَّ اِلَى اللهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَ اَثَرَيْنِ: قَطْرَةُ دُمُوْعٍ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَ قَطْرَةُ دَمٍ تُهْرَاقُ فِى سَبِيْلِ اللهِ، وَ اَمَّا اْلاَثَرَانِ، فَاَثَرٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ اَثَرٌ فِى فَرِيْضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ. الترمذى و قال حديث حسن
Dari Abu Umamah RA dari Nabi SAW beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah dari pada dua tetesan dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah (berperang) di jalan Allah. Adapun dua bekas ialah bekas yang terjadi di jalan Allah dan bekas melaksanakan kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah ‘Azza wa Jalla”. [HR. Tirmidzi, dan ia berkata hadits hasan]
﴾ Al Hujuraat:10 ﴿
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan TAKUTLAH TERHADAP ALLAH, supaya kamu mendapat rahmat.
hadits
عَنِ اْلعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا اِقْشَعَرَّ جِلْدُ اْلعَبْدِ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ تَحَاتَّتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ كَمَا يَتَحَاتُّ عَنِ الشَّجَرَةِ اْليَابِسَةِ وَرَقُهَا. البيهقى و ابو الشيخ ابن حبان
Dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kulit seorang hamba merinding karena takut kepada Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana daun-daun berguguran dari pohon yang kering”. [HR. Baihaqi dan Abusy-Syaikh Ibnu Hibban].
hadits
و فى رواية قال: كُنَّا جُلُوْسًا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص تَحْتَ شَجَرَةٍ فَهَاجَتِ الرِّيْحُ فَوَقَعَ مَا كَانَ فِيْهَا مِنْ وَرَقٍ نَخِرٍ وَ بَقِيَ مَا كَانَ مِنْ وَرَقٍ اَخْضَرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مَثَلُ هذِهِ الشَّجَرَةِ؟ فَقَالَ اْلقَوْمُ: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ اَعْلَمُ. فَقَالَ: مَثَلُ اْلمُؤْمِنِ اِذَا اِقْشَعَرَّ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَقَعَتْ عَنْهُ ذُنُوْبُهُ وَ بَقِيَتْ لَهُ حَسَنَاتُهُ. البيهقى
Dan dalam satu riwayat (Abbas) berkata : Dahulu kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW di bawah pohon, lalu bertiup angin kencang, maka berjatuhan daun-daun kering dari pohon itu, dan tetaplah di pohonnya daun-daun yang hijau. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana perumpamaan pohon ini ?”. Lalu orang-orang berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Perumpamaan orang mukmin itu apabila merinding karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berguguranlah dosa-dosanya dan tetaplah padanya kebaikan-kebaikannya”. [HR. Baihaqi]
>> takutlah pada SIKSA Allah (عَذَابَ} /neraka) di AKHIRAT
﴾ Az Zumar:13 ﴿
Katakanlah: “Sesungguhnya aku TAKUT {أَخَافُ} akan SIKSAAN {عَذَابَ} hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”.
﴾ Yunus:15 ﴿
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: “Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia”. Katakanlah: “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya AKU TAKUT { أَخَافُ} jika mendurhakai Tuhanku kepada SIKSA { عَذَابَ} hari yang besar (kiamat)”.
﴾ Yaa Siin:45 ﴿
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “TAKUTLAH KAMU {ٱتَّقُوا۟} akan SIKSA yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).
﴾ Al Baqarah:123 ﴿
Dan TAKUTLAH kamu kepada suatu HARI di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan TIDAK akan memberi manfaat sesuatu SYAFA’AT kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.
……………………………………
Di zaman sekarang ini, manakala mendengarkan nasehat atau peringatan tentang kematian, kubur dan akhirat, kebanyakan orang tidak mempedulikannya, tidak mencemaskannya dan tidak mengambil pelajaran darinya. Bahkan, jika disebut tentang Jannah dan neraka, hal itu sudah tidak lagi menarik perhatian mereka. Hal ini tidak terjadi kecuali karena telah hilangnya rasa takut kepada Allah di hati mereka.
Dunia telah menjadi tujuan terbesar mereka, yang selalu mereka pikirkan berkutat masalah dunia, dan mereka pun tertipu olehnya. Padahal hal itulah yang menyebabkan mereka binasa dan mendapatkan kerugian dunia dan akhirat, karena hati mereka telah mati terlebih dahulu sebelum matinya jasad mereka.
Semestinya, setiap orang memahami, bahwa didunia ini hanyalah sementara, dan ia pasti berjalan menuju akhirat. Oleh karenanya, ia harus memiliki bekal yang cukup, dan sebaik-baik bekal bagi seorang hamba dalam mengarungi dunia yang fana ini menuju akhirat kekal abadi adalah takwa, sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah :197)

Orang berakal adalah orang yang menyadari hal ini dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata, karena pada suatu hari nanti, harta dan anak tak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan membawa hati yang bersih.
Berbagai nikmat dunia, berupa kesehatan, harta, kedudukan dan kekuasaan, semua itu akan hilang dan binasa. Yang akan dibawa ketika menghadap Allah hanyalah amal yang telah ia lakukan, baik amal buruk atau amal yang sholih. Dan balasan itu sesuai dengan amal yang telah dilakukannya.
Menurut penjelasan Ali bin Abi Thalib ra. takwa adalah al-khaufu minal jalil (takut kepada Allah Yang Maha Mulia), al-‘amalu bit tanzil (mengamalkan kitabullah), al-qona’atu bil qolil (merasa cukup dengan sesuatu yang sedikit) dan al-isti’dad liyaumir rahil (mempersiapkan bekal untuk menghadap hari akhirat). Dengan definisi ini, beliau menjelasakan dasar-dasar takwa dan pilar-pilarnya.
Maka dapat dipahami, bahwa rasa takut kepada Allah SWT adalah pangkal hikmah dan intisari iman. Dan sesungguhnya, orang yang tunduk dan takut kepada Allah adalah orang-orang yang mengetahui kebesaran Nya da menunaikan hak-hak Nya. Allah berfirman :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir : 28)

Mengukur Kadar Rasa Takut Kepada Allah

Maka tidaklah cukup rasa takut tanpa melakukan amal, karena barangsiapa yang benar-benar takur kepada Allah, maka rasa takut itu akan mendorongnya untuk beramal. Maka barangsiapa yang takut kepada Allah SWT, maka ia akan melaksanakan kewajiban-kewajiban Nya dan menjauhi larangan Nya dan ia akan selalu merasa diawasi Allah dan merasakan kehadiran Nya.
Para salafus shalih adalah keteladanan yang baik dalam hal ini. Mereka sealau bertakwa kepada Allah, berlaku zuhud, beramal kebajikan dan takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sehingga air mata merekapun berlinang dan telapak kaki mereka pecah-pecah karena lamanya mereka berdiri untuk melakukan shalat malam.
Dunia tidak seperti melenakan mereka, karena mereka menganggapnya hina dan berusaha memanfaatkan waktu sedikit di dunia ini dengan sebaik-baiknya untuk kebahagiaan di waktu yang panjang di akhirat kelak. Mereka selalu memikirkan mengenai alam kubur dengan segala apa yang ada di dalamnya beserta kejadian setelahnya di hari kiamat.
Yazid Ar-Roqoosy pernah berkata kepada dirinya sendiri,

“Sesungguhnya celaka dirimu wahai yazid, siapakah yang shalat untukmu setelah kematiannmu? siapakah yang akan melakukan shaum untukmu setelah kematianmu? siapakah yang akan mencari keridhaan Rabbmu untukmu setelah kematianmu? Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangisi diri kalia selama masih hidup? ketahuilah, sesungguhnya kematian akan mengintai setiap orang dari kita, kuburan akan menjadi tempat tinggalnya, tanah akan menjadi kasurnya dan cacing akan menjadi temannya. Dan dalam kondisi ini seperti inipun ia masih menunggu ketakutan yang sangat (hari kiamat), lantas bagaimanakah keadaannya?”

Kemudian Yazidpun menangis.
Mari kita bermuhasabah, seberapakah kadar rasa takut kita kepada Allah? dan seberapakah rasa takut itu bida mendorong kita untuk beramal? semoga kita mendapat dua Jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang takut kepada Rabbnya. aamiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s