NEW FIRAUN


neew

Kisah seorang Mukmin dari keluarga Firaun .. Ibrah pada NEW FIR’AUN now
…………………………….
……………………………………………..
Alloh telah memilih lelaki ini dari tengah-tengah tumpukan kekafiran dan kesesatan. Dia berasal dari keluarga Fir‘aun, tapi betapa jauhnya perbedaan antara dirinya dengan Fir‘aun dan familinya secara umum. Sungguh, dia adalah lelaki yang Alloh bukakan pandangan matanya. Sehingga tidak gentar terhadap pengaruh kuasa kebatilan dan banyaknya penyimpangan. Ia justru mengikuti Nabi Musa -semoga sholawat dan salam Alloh tercurah selalu kepada beliau-, yakin kepada Alloh, dan lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya. Al-Quranul Karim menyebutnya sebagai seorang laki-laki –yang mana jumlah kaum laki-laiki saat itu sangat sedikit- dan ia adalah seorang mukmin. Dan setiap orang yang mengetahui tujuan dirinya diciptakan, pasti berkeinginan untuk disifati sebagai orang beriman. Sungguh bahagialah seseorang yang diberi kesaksian ini dari Dzat pencipta langit dan bumi, Dzat yang mengetahui pandangan mata khianat serta segala yang tersimpan di dalam hati, serta Dzat yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Dan seperti biasa, Al-Quran tidak menyebutkan siapa namanya, serta bagaimana rupa dan bentuknya. Sebab, semua itu tidak banyak bermanfaat untuk diketahui. Agar kisah ini menjadi pelajaran tentang sikap menyerahkan segala urusan kepada Alloh. Pelajaran bagi siapa saja yang ingin mengadakan transaksi jual-beli dengan Alloh. Juga, nasihat bagi mereka yang ingin melaksanakan kewajiban ibadah, walaupun namanya tidak dikenal oleh penduduk bumi. Cukuplah ia dikenal oleh penduduk langit, sebagai orang-orang yang bertakwa, meski tak dikenal.

Jika suara kebatilan menggema gegap gempita di sekeliling Anda, serta kezholiman dan kegelapan semakin parah, maka bangunlah kembali tekadmu, perbaruilah kembali semangat lama, dan serukan selalu kata-kata orang mukmin dari keluarga Fir‘aun kepada semua orang yang mendengar. Ia menyembunyikan imannya setelah kebenaran menyentuh hatinya. Makanya, ia memberikan pembelaan kepada Nabi Musa alaihissalam dan membuat taktik muslihat untuk mendukungnya :

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, ‘Robbku ialah Alloh’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Robbmu…’” (Al-Mu’min [40] : 28)

Di sini terdapat isyarat yang menunjukkan kepada tauhid dan bukti-bukti ke arah sana. Ia menyampaikannya dalam bentuk istifhâm inkârî.[3] Bukan dengan celaan atau laknat, namun dengan memasukkan nasihat lembut ke dalam hati mereka secara perlahan yang disertai dengan ancaman sekaligus penyampaian argumentasi. Ia mengatakan :

“…jika ia seorang pendusta, maka toh dia sendiri yang menanggung (dosa) dustanya itu; tetapi jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (Al-Mu’min [40] : 28)

Telah dimaklumi bahwasanya orang yang diberi petunjuk oleh Alloh untuk melakukan berbagai keajaiban seperti mukjizat, bukanlah orang yang melampaui batas lagi pendusta. Ini sebenarnya adalah teguran buat Fir‘aun. Ia adalah seorang yang melampaui batas dalam ambisi untuk membunuh Nabi Musa alaihissalam dan pendusta karena ia mengaku sebagai tuhan.

Setelah itu, si mukmin dari keluaga Fir‘aun tersebut melanjutkan dengan menyampaikan ancaman berupa adzab Alloh. Ia berkata :

“Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Namun, siapakah yang akan menolong kita dari adzab Alloh, jika adzab itu menimpa kita…” (Al-Mu’min [40] : 29)

Maksudnya, kalian telah mengalahkan dan berkuasa atas umat manusia. Maka, janganlah kalian merusak urusan kalian sendiri dan jangan menantang turunnya adzab Alloh. Karena kalian tidak akan mampu menanggungnya!

Ketika Fir‘aun menyadari kebenaran argumentasi orang ini, ia berkata :

“…Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (Al-Mu’min [40] : 29)

Di sini, Fir‘aun bereaksi sebagaimana biasanya semua tirani yang mendapat nasihat. Bangkitlah kesombongannya yang menyeretnya kepada perbuatan dosa. Ia memandang nasihat tulus yang diarahkan kepada kekuasaannya justru sebagai perlawanan, rongrongan terhadap kewibawaannya, dan intervensi terhadap hak memerintah dan berkuasa. Padahal semua penyataan Fir‘aun sama sekali tidak disertai dengan bukti nyata. Alloh l berfirman :

“…perintah Fir‘aun sekali-kali bukanlah (perintah) yang benar.” (Hud [11] : 97)

Namun sepertinya si mukmin dari keluarga Fir‘aun ini tidak mempedulikan kata-kata Fir‘aun. Ia terus menyampaikan peringatannya :

“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu, (yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Alloh tidak menghendaki berbuat kezholiman terhadap hamba-hamba-Nya.” (Al-Mu’min [40] : 30-31)

Padahal, sudah menjadi hal yang dimengerti, kekufuran dan keangkuhan para pengikut Fir‘aun tidak lebih kecil daripada kaum-kaum yang telah dibinasakan itu. Di sisi lain, Fir‘aun dan pengikutnya tidak lebih kuat daripada umat-umat yang telah diadzab tersebut. Seharusnya, ia mengambil pelajaran dari apa yang menimpa umat-umat terdahulu.

Setelah itu, lelaki mukmin tersebut menyatakan keimanannya. Mungkin karena ia memang telah siap menerima resiko andaikata dirinya akan dibunuh atau mungkin ia yakin mereka tidak akan memperlakukan dirinya dengan buruk. Ia mengatakan :

“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil. (Yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (adzab) Alloh; dan siapa yang disesatkan Alloh, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk.” (Al-Mu’min [40] : 32-33)

Yaitu di hari ketika para malaikat yang bertugas mengumpulkan manusia dipanggil. Disebut ‘hari panggil-memanggil’, karena pada hari itu manusia saling memanggil satu sama lain. Ini adalah pernyataan iman orang mukmin tadi tentang keimanannya kepada Alloh dan hari akhir.

Di tengah penolakan, ketidakpedulian serta keras kepalanya Fir‘aun untuk tetap kafir, lelaki mukmin itu tidak memiliki pilihan selain menyampaikan kalimat terakhirnya secara tegas dan membahana :

“…Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (Al-Mu’min [40] : 38)

Ia membawa mereka dari keterangan yang semula hanya global kepada keterangan yang terperinci. Mulai ia terangkan bahwa dunia ini remeh, hanya bisa dinikmati sebentar saja, setelah itu akan terputus dan habis. Berbeda halnya dengan akhirat yang merupakan negeri abadi.

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Al-Mu’min [40] : 39)

Jadi, orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, adalah orang yang paling bodoh dan tidak berakal.

Lelaki mukmin itu juga menyatakan kepada kaumnya sebuah kaidah tentang hari perhitungan dan pembalasan di negeri abadi. Ia berkata :

“Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk jannah, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.” (Al-Mu’min [40] : 40)

Ia semakin dibuat keheranan karena kebodohan kaumnya yang sudah sangat parah. Ia berkata :

“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?!” (Al-Mu’min [40] : 41)

Artinya, aku menyeru kalian untuk beriman yang buahnya adalah keselamatan, tetapi kalian malah mengajakku kepada kekafiran yang membuahkan neraka.

Benar, lelaki mukmin mengajak mereka kepada kehidupan hakiki dan kebahagiaan abadi. Tapi, kaumnya malah mengajaknya untuk kufur. Mereka memang tidak mengatakan mengajak kepada neraka, tapi kepada kesyirikan. Apa bedanya mengajak kepada neraka dan mengajak kepada kesyirikan? Sama saja. Karena kekafiran adalah sebab masuknya seseorang ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sementara orang mukmin itu takut kembali kepada kekafiran sebagaimana ia takut dilemparkan ke dalam neraka.

Alloh ta‘ala berfirman :

“(Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Alloh dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mu’min [40] : 42)

Lelaki itu menyatakan keimanannya secara terang-terangan di hadapan Fir‘aun dan pengikutnya tanpa bimbang dan ragu. Setelah itu, tidak ada lagi harapan selain menyerahkan urusannya kepada Alloh. “Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Al-Mu’min [40] : 44)

Ia telah ucapkan kata-katanya dan menjadikan jiwanya tenang. Ia mengingatkan kaumnya bahwa mereka kelak akan mengingat kata-katanya ini di suatu tempat yang di sana peringatan sudah tidak berguna lagi dan semua urusan menjadi milik Alloh saja.

Setelah itu dunia digulung, kemudian ditampakkan lembaran amalan pertama. Lelaki beriman yang mengucapkan kalimat kebenaran dan telah berlalu itu, Alloh melindunginya dari kejahatan makar Fir‘aun dan balatentaranya. Ia tidak sedikit pun tertimpa dampak kejahatannya di dunia dan di kehidupan sesudahnya. Sementara itu, pengikut Fir‘aun dan pengikutnya menerima siksa yang buruk.

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras’.” (Al-Mu’min [40] : 46)

Orang beriman dari keluarga Fir‘aun itu tidak hanya menyatakan dan membela agama yang benar, atau sekedar tidak menyerahkannya kepada musuh, tetapi juga menolak makar orang-orang kafir dan serangan orang-orang yang hendak menyerangnya, “Maka Alloh pun menjaganya dari kejahatan makar mereka…” (Al-Mu’min [40] : 45) di dunia dan akhirat. Di dunia dengan diselamatkannya ia bersama Nabi Musa alaihissalam. Adapun di akhirat adalah dengan memberikan surga kepadanya. Dikisahkan bahwa ketika orang mukmin ini menyatakan kebenaran secara terang-terangan, maka kaumnya hendak menyerangnya dengan berbagai cara. Muqotil berkata, “Ketika ia menyatakan kalimat tersebut, kaumnya berniat membunuhnya. Lalu ia melarikan diri meninggalkan mereka menuju ke sebuah gunung. Kaumnya memburu, tapi tidak berhasil menangkapnya.”
<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
sumber lain

Ketika Allah mengutus rasulNya, nabi musa kepada firaun dan kaumnya, untuk mengajak mereka bertaubat dari kekufuran, datanglah penentangan yang keras dari firaun, seraya berkata,”bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengannya, dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”.

Demikianlah kejamnya firaun melawan dakwah nabi musa. Allah gambarkan kebengisannya dalam firmanNya yang lain.

“sesungguhnya firaun telah berbuat sewenang-wenang dimuka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka, sesungguhnya firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Allah tegaskan bahwa ia adalah termasuk orang-orang yang membuat kerusakan dimuka bumi ini. Akan tetapi ia beranggapan sebaliknya, dialah sebenarnya orang yang memakmurkan bumi ini, ialah sebenarnya orang yang memperbaiki bumi, membuat kesejahteraan dan kedamaian dalam hidup. Maka ketika nabi Musa datang kepadanya, menyerunya untuk beribadah dan taat kepada Allah semata, ia mengaggap musa sebagai perusak dan pengacau kehidupan. Ia berusaha untuk memutar balikkan fakta. Ia berkata,”biarkan aku membunuh musa dan biar ia meminta kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku kawatir dia akan menukar agama kalian atau membuat kerusakan dimuka bumi”.

Ia meyakini apa yang ia kerjakan salama ini adalah memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan. Ia berkata,” aku tidak menyampaikan kepada kalian sesuatu kecuali sesuatu yang saya anggap baik dan aku tidak tunjukkan kepada kalian kecuali jalan kebenaran”.

Allah membatahka keyakinan tersebut,”dan firaun telah menyesatkan kaumnya dan ia tidak menunjukkan (kepada kebenaran)”.

Demikianlah keyakinannya, memutar balikkan fakta, ia mengaku dialah orang yang berada dalam kebenaran, dialah orang yang membela dan menegakkan agama, sedangkan pembawa kebenaran yang hakiki, nabi musa dianggap perusak dan penyeleweng agama.

Dakwah nabi musa ditolak oleh firaun, meskipun demikian masih ada diantara keluarganya yang mau menerima dakwah tersebut, satu kerabatnya, dan yang lain adalah istri firaun sendiri.

Ia selama itu berusaha untuk menyembunyikan keimanannya. Hingga ketika firaun berkata,”biarkanlah aku membunuh musa”. Bangkitlah kemarahannya karena Allah, ia tidak rela nabi musa dibunuh oleh firaun. Maka ia memberanikan diri, menentang keinginan firaun tersebut, seraya berkata kepadanya,”apakah kalian akan membunuh seseorang yang berkata, bahwa Tuhanku adalah Allah, dan sungguh ia telah datang kepada kalian membawa bukti-bukti (kebenaran) dari Tuhan kalian?”.

Ia ungkapkan keheranan dan keingkarannya terhadap rencana firaun untuk membunuh seorang rasul. Bagaimana mungkin seorang utusan Allah, yang mengakui Allah sebagai Tuhannya dan datang dengan bukti-bukti nyata tentang kenabiaannya akan dibunuh??. Ini adalah kedurhakaan yang sangat besar, karena berusaha untuk memusnahkan dan melenyapkan kebenaran.

Ia berkata lagi,”jikalau memang ia (nabi musa) seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) atas kebohongannya itu, dan jika ia orang yang jujur maka sebagian (bencana) yang diancamkan kepada kalian akan menimpa kalian, sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang melampui batas dan pendusta”.

Kemudian ia mengingatkan kepada kaumnya akan siksa pedih hari qiyamah, dan menyadarkan mereka agar jangan sampai terperdaya dan tertipu dengan kekuasaan.

Ia berkata,”wahai kaumku, untuk kalian kerajaan (kekuasaan) pada hari ini dengan berkuasa dimuka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari adzab Allah jika menimpa kita?”.

Ia berusaha memahamkan kepada kaumnya agar mereka tidak tertipu dengan kekuasaan yang sedang mereka miliki, sebab setinggi dan seluas apapun kekuasaan mereka, jika Allah menghendaki menimpakan kepada mereka adzabNya yang akan membinasankan mereka, niscaya tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghindarkan dari adzab tersebut kecuali Allah.

Firaunpun menimpali ucapan orang tersebut, seraya berkata,” aku tidak menyampaikan kepada kalian sesuatu kecuali sesuatu yang saya anggap baik dan aku tidak tunjukkan kepada kalian kecuali jalan kebenaran”.

Ia jelaskan kepada kaumnya bahwa rencana membunuh nabi musa adalah ide yang baik, karena menurut keyakinannya nabi musa adalah pembohong belaka, yang datang hanya akan merusak agamanya, maka dengan membunuhnya agama mereka tetap terjaga dan terpelihara dari kerusakan.

Tapi orang beriman tersebut tidak terima, ia berkata,

”Hai kaumku, sesungguhnya aku kawatir kalian akan tertimpa (bencana) seperti peristiwa hancurnya golongan yang bersekutu, yakni seperti kaum ‘ad, kaum tsamud, dan orang-orang yang datang setelah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kedhaliman terhadap hamba-hambaNya,

wahai kaumku, sesungguhnya aku kawatir terhadap kalian akan adzab panggil memanggil (hari qiyamah), yaitu hari ketika kalian lari berpaling ke belakang, tidak ada bagi kalian seorangpun yang akan menyelamatkan kalian dari adzab Allah, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang bisa memberinya petunjuk, dan sesungguhnya telah datang yusuf kepada kalian dengan membawa bukti-bukti, tetapi kalian masih saja dalam keraguan tentang apa yang dibawanya untuk kalian, hingga ketiak ia meninggal, kalian berkata,”Allah tidak akan mengirim seorang rasulpun sesudahnya.

Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampui batas dan ragu-ragu, yaitu orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa dasar yang sampai kepada mereka, amat besar kemurkaan bagi mereka disisih Allah dan disisih orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Ia berusaha mengingatkan kaumnya jika mereka tetap menentang ajaran dan dakwah nabi musa, dan tetap setia mengikuti agama firaun, mereka akan dihancurkan Allah, sebagaimana Allah telah menghancurkan kaum-kaum terdahulu disebabkan karena kedurhakaan dan keingkaran mereka terhadap para nabi mereka.

Kali ini firaun berusaha melemahkan dakwah dan ajakan nabi musa, ia akan membuktikan kelemahan nabi musa dengan cara mengelabui rakyatnya, yang pada hakekatnya cara itu sama sekali tidak mampu melemahkan kebenaran nabi musa. Ia berkata kepada mentrinya yang bernama haaman,”wahai haman bangunkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku bisa sampai kepada jalan-jalan, yaitu jalan-jalan menuju langit supaya aku dapat melihat Tuhan musa dan sesungguhnya aku menganggapnya (nabi musa) seorang pendusta”.

Ini ia lakukan untuk mengelabui rakyatknya dan membuktikan kebenaran nabi musa, bahwa Tuhan yang hakiki adalah Allah yang berada diatas langit, maka dapat dipastikan bahwa firaun tidak mungkin bisa melihat Allah, seolah apa yang dilakukannya adalah bukti yang benar bahwa musa hanyalah pembohong, karena ternyata firaun tidak bisa melihat Tuhannya musa, sebagaimana yang didakwahkan.

“Demikianlah dijadikan firaun menganggap baik perbuatan buruknya tersebut, dan ia dihalangi dari jalan (yang benar) dan daya firaun tidak lain hanyalah membawa kerugian”.

Orang yang telah beriman tersebut tidak mau kalah, ia berdiri dan berkata dengan penuh keberanian dan ucapan yang lantang dan melawan ajakan firaun.

“wahai kaumku, ikutilah aku (dan jangan turuti perkataan firaun) aku akan tunjukkan kepada kalian jalan yang benar”

“wahai kaumku sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akherat itulah negri yang kekal, (dan) barang siapa yang beramal kejelekan, maka ia tidak akan dibalas melainkan keburukan setimpal dan barang siapa yang beramal kebaikan baik ia laki-laki maupun wanita sedangkan ia beriman maka mereka akan masuk surge, mereka diberi rizki tanpa hisab”.

Ia tunjukkan kepada kaumnya jalan yang benar, jalan yang akan menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki, itulah jalan menuju surgaNya. Dengan banyak beramal shalih dan meninggalkan amal buruk.

Kemudian ia melanjutkan nasehatnya kepada kaumnya.

“wahai kaumku, bagaimana kalian ini, aku mengajak kalian menuju keselamatan, sedangkan kalian mengajakku menuju neraka?, kenapa kalian mengajakku agar aku kufur kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya, padahal aku mengajak kalian (agar kalian beriman) kepada Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun?”.

Sudah pasti bahwa apa yang kalian seru supaya aku beriman kepadanya tidak dapat mengabulkan seruan apapun baik didunia maupun diakherat dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampui batas, mereka adalah penghuni neraka.

Kelak kalian akan ingat kepada apa yang aku katakana kepada kalian. Dan aku menyerhakan semua urusanku hanya kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya”.

Setelah firaun dan kaumnya mengetahui keisalaman salah satu kerabatnya ini, mulai ia membuat makar untuk membinasakannya. Akan tetapi Allah lebih berkuasa atas segalanya. Allah selamatkan orang tersebut dari makar firaun tapi justru sebaliknya Allah tunjukkan kepadanya, bahwa kekafiran dan kedurhakan kepada para RasulNya dan orang-orang beriman berakhir kepada kehancuran dan kesengsaraan, maka Allah tenggelamkan firaun dan kaumnya yang masih kafir.

Allah berfirman menjelaskan akhir dari perjalanan mereka.

“kepada mereka ditampakkan neraka diwaktu pagi dan petang dan pada hari terjadinya qiyamat (dikatakan kepada malaikat), “masukkanlah firaun dan kaumnya kedalam adzab yang sangat pedih”.

Demikianlah kisah perseteruan antara hak dan batil, dan dimenangkan oleh yang hak.

Begitu banyak pelajaran yang tersirat dalam kisah tersebut, diantaranya adalah :

1. pengusung kebathilan akan senantiasa sepanjang jaman dan masa berusaha melenyapkan kebathilan.

2. Barometer pengusung kebathilan adalah membalikkan kenyataan, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar.

3. Pengusung kebathilan berkeyakinan merekalah orang-orang yang mampu menciptakan kemajuan hidup, mengangkat harkat dan martabat manusia dan kehidupan yang berperadaban.

4. Terkadang pengusung kebathilan menggunakan cara yang mudah diterima oleh banyak orang, untuk membuktikan bahwa apa yang mereka yakini adalah benar dan apa yang dibawa para nabi adalah kebohongan belaka. Tapi itu semua adalah tipu muslihat dan rekayasa syaithon belaka. Karena mereka adalah para budak-budak syaithan.

5. Dakwah harus senantiasa ditegakkan apapun resikonya.

6. Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akherat, dunia hanyalah kehidupan permainan dan tipu muslihat belaka.

7. Kebenaran pasti akan menang dan muncul kepermukaan, jika ada usaha yang kuat untuk itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s