ALLAH MENGAWASIMU


 pengawasan

TAKWA JANGAN SETENGAH-SETENGAH ….. orang BERIMAN = ” orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang TAKUT dan mengHINDARi apa yang diHARAMkan Allah, ….. serta menJALANkan apa-apa yang diWAJIBkan oleh Allah.”
——————————-
Ali Imran:102. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.
————————————–
Ali K.W mendefinisikan takwa sebagai berikut:

a. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.

b. Beramal dengan Al-Qu’an yaitu bagaimana Al-Qur’an menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang menusia.

c. Orang yang menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya hidup sesudah mati.
———————————
Barangsiapa mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan IKHLAS, masuk surga. Para sahabat bertanya, “Apa keikhlasannya, ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, “Memagarinya (melindunginya) dari segala apa yang diharamkan Allah.” (HR. Ath-Thabrani)•
———————
Takwa secara etimologis berarti waspada diri dan takut. Takwa kepada Allah secara terminologis adalah melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan Allah sebagaimana yang dilarang oleh Allah. Sementara sahabat nabi memahami arti “haqqa tuqatih” sebagaimana sabda nabi, yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawai dari Abdullah Ibn Mas’ud:

Artinya: “Ittaqullah haqqa tuqatihi” ialah hendaknya Dia ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak diingkari dan diingat tidak dilupakan”. (H.R. Al-Hakim)

Penggalan ayat “haqqa tuqatih” juga dapat bermakna“bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimilikinya, ini didasarkan pada Surat At-Taqhabun;

فَـاتَّقُوا اللهَ مَـا اسْتَطَعْتُمْ

Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Q.S. At-Taghabun: 16)

Yang dimaksud dengan “Walatamutunna wa antum muslimuun” antara lain adalah “Janganlah seseorang itu meninggal melainkan ia berbaik sangka kepada Allah”, sesuai hadits Nabi: yang artinya: “Janganlah seorang diantara kamu mati melainkan ia berbaik sangka terhadap Allah” (H.R. Muslim). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: yang artinya: “Allah berfirman: Aku berada pada prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika ia berprasangka baik maka ia adalah untuk dirinya sendiri dan jika ia berburuk sangka terhadap diri-Ku maka itu adalah untuk dirinya sendiri”.

“Walatamutunna wa antum muslimuun” bisa juga dipahami bahwa “janganlah seseorang muslim meninggal dunia sebelum semua aspek aktifitas lahir dan bathinnya sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya. Adapun pengertian takwa dari akar kata yang bermakna ”menghindar, menjauhi, atau menjaga diri”, M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa kalimat perintah ”ittaqullah” yang secara harfiah berarti ”hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah”, tentu makna ini tidak lurus dan bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Sebab, bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhiNya, sedangkan ”Dia (Allah) bersama kamu dimana pun kamu berada”.Karena itu, perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya, kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah, baik di dunia maupun akhirat.

ASBABUN NUZUL

Sebab-sebab turunnya surat ali-Imran ayat 102 ini yaitu pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu; Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya Suku Aus; yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup berdampingan, secara damai dan penuh keakraban.

Suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar perestiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?.Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpalukan. Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa. Demkianlah asbabun nuzul Q.S. Ali Imran ayat 102 menurut sahabat.

PERBANDINGAN PENDAPAT DARI BEBERAPA TOKOH

Dibawah ini adalah beberapa perbedaan pendapat mengenai takwa, antara lain:
————————–
1. Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, serta menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah.
———————-
2. Athiyah as-Saddi mengatakan:

لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ اَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَى مَا لاَ بَأْسُ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسُ

(رواه الترمذي وابن ماجه).

“seorang hamba tidak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa sebelum dia meninggalkan hal yang mengandung dosa semata-mata karena khawatir terjerumus ke dalam (perbuatan) dosa.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah)

————————–

3. Ibnul Mu’taz, dalam bait-bait syairnya mengatakan bahwa: “tinggalkan semua dosa yang kecil maupun yang besar, itulah takwa.
————————
4. Ali K.W mendefinisikan takwa sebagai berikut:

a. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.

b. Beramal dengan Al-Qu’an yaitu bagaimana Al-Qur’an menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari seorang menusia.

c. Orang yang menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya hidup sesudah mati.
————————
Sebagai seorang muslim yang surat berikrar bahwa dirinya bersaksi taida Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah mengetahui. Bahwa dalam ayat tersebut tersirat kata-kata perintah dan harapan yaitu orang yang beriman disuruh dan untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya takwa tidak setengah-setengah. Dan juga berharap ketika bertaqwa dengan sebenar-benarnya kemudian mati dalam keadaan khusnul khatimah dalam keadaan Islam dan bertqwa. Tuhan mana yang menghendaki mahkluknya seperti itu. Allah yang menghendaki makhluknya selamat, terlindungi dari siksaan, mendapat kenikmatan surga, kesenangan dll.

Takwa jangan setengah-setengah. Ketika kamu masuk Islam ayolah bersama-sama kita berbuat kebajikan, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Kenapa kita harus melakukannya?

1 Sebagai rasa syukur kita telah diberi kenikmatan, hidup, kesenanga, kebahagian, dll untuk hidup didunia ini menikmatinya dan merasakannya.
2 Selalu dilindungi dan diperhatikan setiap waktu, kita terjaga oleh pengawasannya dari bangun pagi sampai bangun lagi. Dari membuka mata sampai menutup mata. Dari buaian sampai liang lahat. Dari itulah kita terjaga dari banyaknya binatang yang merusak, mikroba yang menginfeksi, setan/jin yang menggoda.
3 Kita telah diberi buku pentunjuk, jika kita menjalankan kebaikan akan mendapat pahala dan surga, jika mengerjakan keburukan akan mendapat dosa dan masuk neraka. Itu sebagai hadiah/imbalan bagi yang baik. Dan ancaman bagi yang jahat.
4 Dll. Yang masih banyak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s